Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Kamis, 12 Juni 2014

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 12 Juni 2014 (Piala Dunia Milik Dunia)

Kang Maman Piala Dunia Milik Dunia

Banyak pengamat dan ilmuwan menulis tentang sepak bola, dan terungkap di tempat ini. Kenapa sepak bola bisa menggetarkan jagat dan membuat semua mata warga dunia menatap ke satu titik: bola yang diperebutkan?

Ada 3 hal ternyata, satu: Sepak bola membantu individu menjadi lebih besar dari dirinya karena mereka merasa menjadi bagian dari komunitas. Yang kedua: Sepak bola sudah menjadi kultur; cara hidup warga dunia, bahasa universal yang bisa dimengerti semua orang walau mereka berasal dari budaya dan agama serta ras yang berbeda. Sepak bola membuat warga dunia hanya punya satu arah tatapan: Piala Dunia. Lebih dari itu, ini yang ketiga: Banyak warga masyarakat modern meski tahu bola beberapa kali memicu nasionalisme ekstrem dalam bentuk rasisme, tapi mereka juga menganggap sepak bola sebagai “agama modern”.

Sepak bola betul-betul mengikat orang dalam komunitas dan menciptakan rasa kebersamaan. Ketika Timnas umur 19 [U-19] mengalahkan Korea, misalnya, kita berada dalam satu ikatan yang sama. Tangis bahagia, perasaan haru dan bangga, garuda di dada serasa terbang mengangkasa di Indonesia raya, menggetarkan nusantara, dan Indonesia Raya dinyanyikan tanpa ada satu pun yang mengomandonya. Kita menjadi satu.

Karenanya kita percaya: tak ada yang tak mungkin. “Bola bundar,” kata Desta. Cak Lontong bilang, “Kita bisa!” Kang Denny tadi mengatakan, “Hidup ini seperti bola dunia; kadang di atas dan besok bisa berputar.” Seperti itulah kita; sekarang kita cuma jadi penonton, suatu saat kita bisa menjadi yang ditonton. Ramang-ramang muda, GARUDA DI DADAKU! (Maman Suherman)
Share:

Rabu, 11 Juni 2014

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 11 Juni 2014 (Nenek Moyangku Seorang Pelaut)

Kang Maman Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Deklarasi Djuanda (13 Desember 1957) adalah deklarasi yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Lautan negeri ini adalah kepingan indah surga yang dititipkan Tuhan kepada kita. Seperti kata Riani tadi, ada 600 dari 700 spesies terumbu karang dunia ada di negeri ini, ada di lautan kita. Jangan khianati anugerah itu yang luasnnya—kata Cak Lontong2/3 atau tepatnya sekitar 5/8 dari luas Indonesia. Dan jangan khianati, seperti kata Ronal yang tertuang dalam satu puisi manis dari Husni Djamaluddin:

“laut mengirimkan ikan
lewat perahu-perahu nelayan
tetapi laut dijamu lumpur
dan segala kotoran sungai
laut mengirim udang
terhidang di meja makan
tapi laut disuguh keruh
air selokan
laut mengirim garam
agar selera tak kehilangan gairah
tetapi laut mendapat ludah
dari kapal-kapal yang muntah
laut mengirim minyak
dan timbunan dolar
tapi laut dibayar
dengan ampas-ampas teknologi
laut mengirim mutiara
jadi permata mahkota
tapi laut menerima sisa-sisa
dari perut kota

(Padahal), laut tetap menggulung cintanya
dalam gelombang rindu
laut selalu setia mengirimkan ombak
ke pantai-pantai ....”

Konklusinya, balaslah cinta tulus nan setia dari lautan dengan tidak mengotorinya, balaslah kasih nelayan dengan tidak terus membiarkannya terpuruk dalam kedalaman samudra kemiskinan! (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 10 Juni 2014

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 10 Juni 2014 (Organ Tubuh Bernilai Rupiah)

Kang Maman Organ Tubuh Bernilai Rupiah

Berbagai alasan melatarbelakangi terjadinya transplantasi dan jual beli organ tubuh manusia. Ada hukum formal yang mengatur, ada aturan agama yang menggariskannya. Jelas tegas, misalnya, tidak boleh dilakukan dengan zalim, membunuh dan menjual orang untuk diperjualbelikan organnya, dan berbagai tindakan kebatilan dan memudaratkan lainnya. Pidana 10 tahun penjara plus denda 1 miliar.

Di sisi lain, transplantasi organ tubuh untuk menyelamatkan kehidupan orang lain juga tersaji di depan mata. Ada yang ikhlas mendonorkan organnya tanpa pamrih: Pak Dahlan Iskan, contohnya. Ia menerima transplantasi liver dan membiayai seorang jurnalis untuk juga mentransplantasi liver. Terlepas dari soal pro kontra, izinkan untuk mendeskripsikan apa yang tadi diucapkan oleh Jarwo Kwat.

Ada seorang anak yang sangat benci kepada ibunya. Begitu besar kebencian yang dirasakannya, bukan karena ibunya jahat dan tidak perhatian kepadanya, tapi semata karena mata ibunya cacat sebelah. Ketika Sekolah Dasar, sang anak sering diejek teman-temannya dengan sebutan “anak Si Buta”.

Pernah suatu ketika si ibu memanggil dan tersenyum kepadanya ketika dia sedang berkumpul dengan temannya, bukan sebuah senyum yang didapatkan si ibu, tetapi sumpah serapah yang dilontarkan sang anak. Sang anak berkata di depan ibunya bahwa dia benci ibunya karena ibunya buta dan dia ingin ibunya mati saja.

Tahun berganti. Sang anak telah memiliki keluarga sendiri dan selama itu ia tidak pernah mau lagi tinggal dengan ibunya. Suatu kali sang ibu berkunjung ke rumah anaknya. Ketika sang ibu berada di depan rumah anaknya, bukannya dipersilakan masuk, tapi diusir dengan penuh cacian.

Ibu meninggalkan rumah itu dengan wajah sedih. Ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Para tetangga mengabarkan kepada sang anak, sang anak tidak merasa sedih atas kepergian ibunya. Seorang tetangga lalu mengirimkan sepucuk surat dari sang ibu. Dalam suratnya, ibu hanya mengatakan:

“Maafkan saya jika selama ini membuatmu malu.

Nak, mata ibu memang cacat sebelah. Karena ketika kamu masih berusia tiga tahun, kamu terjatuh ketika bermain sehingga matamu buta sebelah. Karena tidak ingin melihat matamu buta sebelah, ibu memberikan mata ibu sebelah untukmu, Nak.

Ibu tidak peduli harus kehilangan sebelah mata demi kamu agar kamu tetap sempurna.”

Di akhir surat, sang ibu mengatakan bahwa dia begitu mencintai sang anak dan ingin sekali memeluk sang anak. Yang dia bayangkan, ketika anaknya tergolek jatuh dan kehilangan sebelah mata.

Tercekat kerongkongan sang anak ketika membaca dan tak kuasa butiran air mata mengalir dari sudut matanya. Dadanya sesak dipenuhi perasaan haru dan bersalah teramat dalam.

***

Semua orang ingin sempurna, dan manusia memang makhluk paling sempurna di mata Sang Khalik. Tapi bila ada yang tak sesempurna diri kita, tak ada hak bagi kita untuk mencela atau menjauhinya. Karena bisa jadi, kita ini sempurna karena bantuan sosok yang kita anggap tidak sempurna itu. Kita sempurna karena ada yang berkorban untuk kesempurnaan kita.

Kamu bisa memberikan hati nuranimu tanpa memperjualbelikan organ hatimu dengan cara peduli pada sesama. Jadi, teruslah jaga tubuhmu, dan rawat hati nuranimu! (Maman Suherman)
Share:

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 9 Juni 2014 (Cinta Terhalang Tradisi)

Kang Maman Cinta Terhalang Tradisi

Ada yang mengatakan bahwa cinta adalah perpanjangan kasih sayang Tuhan untuk semua umatNya. Namun justru di saat dua orang saling mencintai, kotak-kotak pembeda menjadi hal yang bisa membuat dada sesak. Seperti kata Bernard Batubara dalam novel Surat untuk Ruth—mewakili suara hati Bedu:

“...
Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama,
bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama?

Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan.
Jika waktu telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan?

Masihkah ada waktu untuk kita bersama?
...”

Tapi ada yang percaya dengan kalimat Einstein—mewakili Gading Marten tadi—bahwa, “Selagi ada cinta, tidak perlu ada lagi pertanyaan. Jadi, lanjutkan!”

Kata Shakespeare, “Toh, perjalanan cinta sejati tidak akan pernah berjalan mulus.”

“Bukankah sejarah dunia menunjukkan bahwa tidak ada romantika kehidupan jika tidak ada risiko?” kata Mahatma Gandhi.

Jadi jika bisikan hatimu mengatakan: ada seseorang di balik bukit sana, menunggumu dengan setia, menghargai apa arti cinta, tempuhlah jalan mendaki dan jemputlah cintamu. “Tapi juga bersiaplah,” kata Abdel, Vega, dan Bedu tadi karena “hati bisa terjatuh dan terluka, merobek malam, menoreh seribu duka, dan sayap-sayap pun patah,” kata Kahlil Gibran, “... retak, hancur bagai serpihan cermin, berserakan, bercampur baur dengan debu, patah tertusuk duri tajam.”

Bedu hanya bisa meratap, mencoba menggapai-gapai sebuah pegangan. Begitulah cinta, manisnya terasa karena risikonya pahit mengancam. Tapi jika pun jadi melangkah bersama, ingat, “Semua belum selesai,” kata Vega dan Cipan [Cici Panda]. Karena memilih itu mudah, yang bertahan itu yang lebih susah. Karena pada awalnya semua orang bangga pada pilihannya, tapi pada akhirnya tidak semua orang setia pada pilihannya.

Jadi, yang berhasil menentukan dan mendapatkan pilihan, ingat, ada yang lebih tidak mudah: bertahan pada pilihan. Sementara yang kandas, ingat satu: Ajarkan bibirmu untuk tidak mencemooh karena bibir dibuat untuk mencium, bukan untuk menghina orang yang pernah kau cinta. Karena jika cinta digariskan, orang yang terpisah pun bisa disatukan kembali. True love never ends; cinta sejati tak pernah berakhir. (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter