Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 September 2016

Selamat Hari Raya Iduladha 1437 H

“Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Hajj : 37)

Selamat hari raya Iduladha 1437 H/2016 M, mudah-mudahan kita menjadi hamba yang senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Aamiin, yaa Rabbal ‘alamin.. :)

#semoga
Share:

Kamis, 12 November 2015

Abwa’

“Bang, di manakah ibu Nabi Muhammad wafat?” tanya adik perempuan saya yang kelas 2 SD, semalam.

“Aduh, di mana ya?” tanya saya kepada diri sendiri karena bingung bin lupa. Sesaat kemudian saya jawab, “Ah, abang lupa, dik.”

Di tengah ketidakpuasan adik saya mendengar jawaban itu, tiba-tiba ayah yang sedang makan menghentikan kunyahannya dan menjawab, “Di Abwa’.” katanya singkat.

Saya berpikir sejenak mencerna jawaban itu. Ternyata benar: Abwa’!

“Oh, iya, itu benar, dik!” Tegas saya kemudian kepada adik saya itu. Lalu ia pun menuliskan nama tempat (kota) itu di buku PR-nya.

***

“Bagaimana bisa ayah yang sudah berusia 55 tahun masih ingat nama kota itu, sedangkan saya yang masih 20 tahun dan masih sangat muda sudah benar-benar (me)lupa(kannya)?” pikir saya dalam hati.

Tiba-tiba saya teringat nasihat itu. Imam As-Syafi’i pernah berkata, “Aku mengadu pada guruku tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku meninggalkan kemaksiatan. Dia pun berkata, ‘Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.’”

Benar saja. Konon saat itu, hafalan Imam As-Syafi’i hilang hanya gara-gara tak sengaja melihat betis seorang wanita yang kainnya tersingkap oleh angin!

Sedangkan saya, apakah hafalan-hafalan saya yang hilang juga gara-gara TAK SENGAJA melihat betis wanita yang disingkapkan angin? Ah, rasanya tidak. Nyatanya lebih dari itu.

Rambut, betis, paha, bahkan aurat wanita lainnya yang seharusnya ditutupi, nyatanya pernah SENGAJA dilihat oleh mata ini. Segala hal yang notabene bukan menjadi hak saya, dengan mudahnya dapat disaksikan di alat komunikasi, televisi, dan kehidupan sehari-hari.

Lelaki bijaksana seharusnya akan langsung mengalihkan pandangannya terhadap segala hal yang bukan menjadi haknya. Lalu, apakah saya adalah ‘lelaki bijaksana’ itu? Pada kenyataanya tidak!

“Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.” Begitu bunyi nasihat itu.

Astaghfirullah... :'(
Share:

Sabtu, 31 Oktober 2015

3110

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un
Selamat jalan, Pak Raden
Terima kasih telah menghibur masa kecil kami
Terima kasih atas masa kecil yang menyenangkan
Kami generasi 90-an tak akan melupakan jasa & karyamu
Selamat jalan, Pak :'(

#RIP (1932 – 2015)



Share:

Jumat, 30 Oktober 2015

3010

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un
berpulang sudah ibu itu
penjual mi-sop-langgananku
tadi pagi kudengar kabar itu dari ibuku

awalnya aku ragu
lalu kuputuskan untuk keluar dari pintu
melihat sekitar rumahku
benar ternyata kabar itu!
dan rasa itu: haru
merasuk dalam kalbu

takkan ada lagi rasa mie kesayanganku
yang seperti dulu
rasa lezat itu kini berganti pilu
menyadarkan diriku
akan perkataan itu:
“Tiap-tiap yang bernyawa PASTI akan merasakan mati,”
kata Tuhanku—dari dahulu

Maaf, Tuhan, kami begitu lalai—abai
Dalam sedih doa itu kuuntai:
Terimalah dia di sisi-Mu
tempatkanlah ia di tempat yang mulia
bersama orang-orang saleh yang Engkau cintai dan ridai
aamiin...

Selamat jalan, ibu penjual mi-sop-favoritku
kelak, kami akan menyusulmu
tak tahu kapan, tapi PASTI
kami akan menyusulmu
ya, akan menyusulmu :'(

#RIP
Share:

Sabtu, 17 Oktober 2015

Rumah Ibadah

Belakangan kembali marak aksi main hakim sendiri dalam membangun rumah ibadah, juga oleh yang menolak keberadaannya. Semua kita mestinya mampu tetap dewasa, taat hukum, dan arif dalam bertindak menyikapinya.

Indonesia adalah negara dengan suku, etnis, bahasa, dan agama yang majemuk, ber-Bhinneka Tunggal Ika, dan berdasar hukum. Setiap pendirian rumah ibadah harus berdasar ketentuan hukum, dan setiap penolakannya juga harus berdasar prosedur hukum. Tindak main hakim sendiri tak hanya melawan hukum, tapi juga mengingkari dan mengoyak jati diri keindonesiaan kita. Jati diri bangsa kita sesungguhnya adalah saling menghormati dan hidup rukun penuh damai dalam keragaman keberagamaan.

Semoga pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh masyarakat mampu lebih mengayomi masyarakat agar keberadaan rumah ibadah benar-benar sebagai sarana peningkatan pemahaman dan pengamalan agama yang wujudkan kemaslahatan bersama.

Keberadaan rumah ibadah tak boleh justru jadi pemicu perselisihan dan konflik sosial antarumat beragama sesama warga bangsa.



* Diambil dari kultwit Menteri Agama RI, @lukmansaifuddin, pada 19.29 – 19.44, 17 Okt. 2015
Share:

Kamis, 15 Oktober 2015

Tentang Pembakaran Tempat Ibadah Itu

Penulis: Irwan Syahputra Lubis, 15 Oktober 2015

Pembongkaran (pembakaran) satu unit tempat ibadah umat Nasrani beberapa hari yang lalu di desa Suka Makmur, kecamatan Gunung Meriah, kabupaten Aceh Singkil, oleh sekelompok orang murni karena tidak adanya izin mendirikan bangunan (IMB). Bukan karena umat Islam di Aceh Singkil tidak toleran atau ingin membalaskan dendam umat muslim di Tolikara, Papua, yang masjidnya dibakar pada hari raya Idulfitri lalu. Sialnya, judul berita selalu: “Gereja Dibakar”. Sial bagi umat Islam. Tidak pernah ada judul: “Gereja Ilegal Menjamur di Aceh Singkil”. Media hanya memberitakan apa yang terjadi, bukan penyebab kejadiannya.

“Ya.. pembakaran gereja tentu salah.. tapi melihat akar persoalannya jauh lebih penting...sopo sing wis tau neng Aceh Singkil ?” – @pristwn

Seperti diketahui, perjanjian antara masyarakat muslim dan Nasrani yang berada di Aceh Singkil menyepakati bahwa yang diizinkan satu gereja dan empat undung-undung (setingkat musala). Tetapi kemudian, jemaat gereja berkembang. Itu sedikit menimbulkan “riak-riak”. Akhirnya pada 2001, perjanjian diperbarui: “Penduduk nonmuslim diberi kesempatan untuk mengurus izin ke Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.”

Jadi, sekali lagi, tempat ibadah yang dibongkar adalah yang tidak memiliki izin, bukan karena umat muslim intoleran atau anti kepada nonmuslim. Namun yang sangat disayangkan adalah, adanya segelintir orang yang melayangkan komentar-komentar (status) di media sosial yang seolah-olah mencerminkan bahwa umat Islam di Aceh Singkil tidak toleran, seperti, “Hancurkan semua gereja yang ada di kabupaten Aceh Singkil; Hancurkan orang-orang kafir,” dan lain sebagainya.

Kami, umat Islam Aceh Singkil, sangat menghargai perbedaan. Buktinya, gereja atau undung-undung yang (telah) memiliki izin, toh tidak ada yang protes atau tidak ada yang mengeluhkan keberadaannya. Sebagian besar dari kami juga hidup damai berdampingan dengan masyarakat nonmuslim.

Hmmm, terhadap yang mengeluarkan komentar-komentar “picik” itu; yang tidak (belum atau tidak mau) memahami arti perbedaan, saya jadi teringat tweet dari akun Twitter @NUgarislucu di bawah ini:

Ajaib, melihat awan bertulis 'Allah' kau bilang tanda kebesaran Tuhan. Tapi perbedaan suku, bangsa, dan agama, kau ingkari sebagai tanda-tanda [kebesaran]-Nya.

“Kiai, apa tanda-tanda kerasnya hati?”

“Saat melihat gereja kau takut imanmu runtuh. Tapi saat membaca Al-Qur'an, tak sedikit pun hatimu tersentuh.”

***

Ah, semoga kita lebih berhati-hati dalam berkomentar. Karena komentar yang kita keluarkan sangat boleh jadi menjadi tolok ukur bagi sebagian orang sehingga dengan mudah mengatakan, “Umat Islam di Aceh Singkil tidak toleran; Umat Islam di Aceh Singkil tidak memahami arti kebinekaan,” dan stigma-stigma lainnya.

Semoga kita bisa memahami segala sesuatu dengan murni, baik, dan benar. Ya, semoga.



Baca juga:
• Pangdam Sebut Umat Islam di Aceh Singkil Sudah Sangat Toleran —>

http://goo.gl/uLkNwz

Share:

Jumat, 02 Oktober 2015

Re:

Oleh: Amma O‘Chem (@amma_chemist)

Re:, wanita yang harus menelan pahitnya hidup dengan menjadi pekerja seks. Bukan inginnya. Bukan pula cita-citanya. PeRempuan yang sejatinya mampu menikmati anugerah diciptakan sebagai wanita, harus tergilas tuntunan kehidupan.

Menyelami kehidupan Re:, membawa saya pada rasa syukur yang amat dalam: Tuhan masih memberi saya kenikmatan luar biasa. Seberapa pelik kehidupan manusia secara umum, lebih lagi pada Re: dengan pekerjaannya yang akan selalu dipandang sebelah mata. Seburuk-buruknya manusia, selalu ada bisikan hati nurani yang tak pernah salah. Begitu juga dalam diri Re:.

Kupikir, Re: tak sendiri. Banyak wanita di luar sana yang menangis merintih ingin “bebas”. Tapi tak mudah. Setan terlalu pintar. Setan? Ya, usahanya membuat Re: selalu merasa terpuruk sangat halus. Bahkan tak tertulis pena. Tapi aku iri pada Re: yang punya semangat untuk membahagiakan buah hatinya. Aku tahu bagaimana rindu dan inginnya memeluk buah hatinya :(

Aku bisa merasakan perang batin yang berkecamuk dalam dadamu, Re:! Rasa dan harap yang selalu ingin bahagia tapi terpasung realita. Tak usah mencela Re: dengan apa yang dikerjakannya. Setidaknya dia tahu itu salah. Beda dengan kita yang (mungkin) merasa selalu suci.

Ketika baca kisah Re:, coba berkaca sudah seperti apa perjuangan kita dalam menaklukkan hidup yang keras ini.

*istirahatlah, Re:*

Terima kasih, Om Maman Suherman, untuk bacaan yang bermanfaat. Ada jalan untuk merenung dan terus bersyukur.



* Diambil dari kultwit @amma_chemist pada 04:51 – 05:12, 2 Oktober 2015
Share:

Rabu, 23 September 2015

Selamat Hari Raya Iduladha 1436 H

“Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Hajj : 37)

Selamat hari raya Iduladha 1436 H/2015 M, mudah-mudahan kita menjadi hamba yang senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, aamiin ya Rabbal ‘alamin.. :)

#semoga
Share:

Senin, 17 Agustus 2015

DIRGAHAYU NEGERIKU


Share:

Jumat, 17 Juli 2015

Selamat Hari Raya Idulfitri 1436 H

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Selamat hari raya Idulfitri 1436 H/2015 M. Minal ‘aidin wal-faizin, mohon maaf lahir dan batin.. :)


– Irwan Syahputra Lubis & keluarga
Share:

Kamis, 18 Juni 2015

Selamat Berpuasa

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1436 H. Semoga kita semua senantiasa mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala, aamiin yaa Rabbal ‘alamin.. :)


– Irwan Syahputra Lubis & keluarga
Share:

Selasa, 12 Mei 2015

Bokis

Oleh: Maman Suherman (@maman1965)

Atas nama MORAL, sejumlah lokalisasi “resmi” ditutup, “rata dengan tanah”. Sementara di depan mata, kita tetap dengan mudah mendapatkan layanan berahi di berbagai tempat, lokalisasi “tidak resmi” berselubung ragam nama. Tak cuma pramuseks lokal, tapi berbagai bangsa pun bisa dicicipi mulai dari Rp1,3 juta sampai Rp4-5 juta short time. Lalu kita semua tiba-tiba merasa aneh dan berubah jadi “suci”, pura-pura kaget saat prostitusi online diungkap. Plis deh ah...

Sejak sebelum era kebebasan media, pra 1998, daftar nama seleb yang disebut-sebut menjajakan diri sudah tersebar dalam bentuk fotokopian. Lebih banyak bohongnya, lebih banyak sensasinya, dan sengaja disebar untuk makin memunculkan rasa “ingin”.

Saat menjadi jurnalis media wanita, saya pernah menghubungi penyebar daftar nama itu, dan mereka meyakinkan diri semuanya memang bisa “dipake”. Tapi kalau kita menanyakan beberapa nama, jawabannya selalu ngeles, “Aduh dia lagi di-booking,” begitu seterusnya.... Lalu dia pun menawarkan sejumlah nama lain, yang katanya juga berstatus “artis”. Usut punya usut (sudah saya ungkap di buku saya: Bokis dan Bokis 2, juga di novel Re: terbitan @penerbitkpg) itu ada polanya. Jadi, sejumlah pramuseks sengaja disisipkan ke sinetron atau film layar lebar. Entah sebagai figuran asal lewat, atau dapat 1-2 scene, dialog. Mereka ditawarkan muncikari/germonya, tak perlu dibayar, bahkan yang meloloskannya dapat bonus tidur dengan pramuseks itu. Bagi mereka, yang penting “anak binaannya” muncul di layar kaca atau di layar lebar, lalu mereka edit gambar itu dan dikumpulkan.

Gambar-gambarnya itulah yang ditawarkan kepada pemelacur/konsumen sebagai bukti kalau “anak binaannya” adalah artis. Dan dengan demikian, harga penawaran pun menjadi naik berlipat-lipat ganda. Demikianlah pola yang berulang tetap hingga kini. Harga menjulang, dari Rp800.000, naik 1,5 juta, dan seorang narsum saya, minta Rp4 juta short time dengan alasan sudah muncul 5 kali di layar TV. Dan ketika “dikulik-kulik” kemunculannya bukan sebagai artis dengan A besar, ya figuran, juga bintang tamu reality show.... Lalu sekarang semua jadi merasa suci, pura-pura kaget seolah fenomena pelacuran online muncul dari langit, plisssss....

Setelah era kebebasan pers '99, media ditumpangi penumpang gelap. Sejumlah media di iklan mininya terang-terangan menawarkan jasa pelacuran. Di iklan mini itu lengkap dengan bentuk pelayanan yang ditawarkan, harga hingga nomor telepon pramuseksnya. Dan online telah menjadi “lokalisasi terbesar di dunia” tanpa sekat tanpa “batas wilayah”. Untuk naikkan harga pramuseks cukup diberi label: mahasiswa/mahasiswi, masih SMA, baru lepas perawan, jualan karena BU (Butuh Uang) semata. Jadi, bukan semata dikemas dalam status artis, bintang film, DJ atas segala profesi yang disoroti gemerlap lampu semata. Pertanyaan sederhana, mengapa “pasar syahwat” itu marak? Tentu ada penawaran karena ada permintaan.

Kalau rantai permintaannya tidak ikut diungkap, pemelacurnya/konsumennya diperlakukan beda dengan pramuseksnya, sama juga “bohong”. Saya malah berpendapat, kalau sekadar ingin cari sensasi dan “ledakan”, ungkap pelakunya lebih heboh dari sekadar ingin tahu siapa sebenarnya AA. Itu betul-betul seperti yang terungkap dalam puisi WS Rendra, Bersatulah Pelacur-Pelacur....

Ketika dahulu bekerja di rumah produksi/agensi dan ikut tender KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) Kementerian, fenomena ini meraja. Permintaan dan penawaran pramuseks kerap mewarnai penawaran calon pemenang, dan kita memperhalusnya dengan istilah pelakunya: oknum. Jadi, jangan-jangan angka Rp80-200 juta sekali pelayanan itu, berasal dari uang rakyat, dari proyek tender.... Karenanya, saya berpendapat, akan jauh lebih sensasional kalau kita akhirnya tahu dan bisa diungkap siapa-siapa konsumen-konsumen mereka...

Saya jadi teringat seorang ibu yang menawarkan anak gadisnya kepada saya hanya agar bisa diselipkan dalam sinetron yang saya produksi juga di majalah saya. Ibu itu dengan dingin berujar, “Pak, saya tinggalkan anak saya, terserah mau diapain aja, asal dia diajak main di sinetron yang Bapak buat.” Dan ketika ibunya pergi, sang anak bercerita bahwa saya bukan orang pertama yang ditawarkan oleh ibunya. Siapa saja? Sejumlah nama orang-orang “baik” dan “suci” di mata masyarakat pun meluncur dari mulut gadis 15-an tahun itu...

Hipokritas kita sedang diuji lagi dengan pura-pura kaget mengetahui terungkapnya pelacuran online. Selamat hari Selasa, semoga makan siang nama-nama yang ada di gadget muncikari yang tertangkap itu tetap bisa lunch dengan nyaman.

Oh iya, sudahkah kita melacurkan diri dan profesi kita demi lembar-lemar rupiah bahkan dolar?

Ketika saya meluncurkan novel Re: yang berbasis kisah nyata, orang bertanya, itu kejadian tahun kapan? Saya jawab, 1987-1989.... Orang-orang pun kaget dan nanya lagi, tahun segitu sudah ada? Kenapa mereka kaget? Karena novel Re: saya angkat dari skripsi saya: Pola Pemerasan Dalam Kepelacuran Lesbian di Jakarta Pusat 1987-1989 dan saya turun lapangan 2 tahun.

2 tahun menyelinap dalam “sindikat” pelacuran, membuat saya bertemu banyak pelanggan dengan “nama besar”, orang “baik” dan “suci” di mata publik. Jadi kalau ada yang “cuci tangan” dengan fenomena ini.... Saya kadang-kadang cuma bisa membatin.... Cuma ingat 1 ajaran:

Rahasiakanlah amal-amal baikmu,
Sebagaimana
Kamu
Merahasiakan dosa-dosamu...

Terhadap para pramuseks, saya ingat twit sahabat saya, @wilsonsitorus : Kita tak ada di masa lalu mereka, tak layak menghakimi masa kini mereka. Kata Ebiet G. Ade, “Tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat....”

Terima kasih sudah mau ditebarin sampah di timeline kalian.... Oh iya, Bokis itu juga bisa berarti: BOtaK tapI Seksi...

Wallahu a‘lam..



* Diambil dari kultwit @maman1965 pada
Share:

Sabtu, 03 Januari 2015

STOP KEMUNAFIKAN!

“Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang-orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan.”

“Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.”

“Saya bermimpi tentang sebuah dunia; di mana tokoh agama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata, ‘STOP KEMUNAFIKAN! Stop semua pembunuhan atas nama apa pun!’.”

“Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan membangun dunia yang lebih baik.”

SOE HOK GIE (17 Desember 1942 - 16 Desember 1969)

Pahami itu!

Jangan hanya berkoar-koar melalui status-status palsumu di dunia maya, namun yang engkau laksanakan 0 (NOL) BESAR!

STOP KEMUNAFIKAN!
STOP KEBOHONGAN-KEBOHONGANMU SELAMA INI!
STOP, STOP SEKARANG JUGA!

Berusahalah menjadi lebih dan lebih baik tanpa harus mengumumkannya kepada khalayak ramai!

Jangan kaukatakan apa yang tak kaulakukan!

Kuharap aku, kau, kalian, mereka, dan kita semua mengerti dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.


Salam,

IRWAN SYAHPUTRA
Share:

Senin, 20 Oktober 2014

Terima Kasih, Pak SBY, Selamat Datang, Pak Jokowi

TERIMA KASIH KEPADA BAPAK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, SUDAH MEMBANGUN INDONESIA & MENCINTAI KAMI

DAN

SELAMAT ATAS TERPILIHNYA Ir. H. JOKO WIDODO & Drs. H. M. JUSUF KALLA SEBAGAI PRESIDEN & WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (PERIODE 2014-2019)

SELAMAT BEKERJA, PAK JOKOWI-JK, SEMOGA MENJADI PEMIMPIN YANG AMANAH DAN MEMBAWA KESEJAHTERAAN UNTUK RAKYAT INDONESIA, AAMIIN.. :)


– RAKYAT INDONESIA
Share:

Minggu, 05 Oktober 2014

Selamat Hari Raya Iduladha 1435 H

Selamat hari raya Iduladha 1435 H/2014 M
Mohon maaf lahir dan batin.. :)


– Irwan Syahputra Lubis & keluarga
Share:

Jumat, 01 Agustus 2014

Menjenguk Singkil, Daerah Terpencil

Maaf, konten ini sudah tidak lagi tersedia.. :(
Share:

Jumat, 04 Juli 2014

Ceramah Singkat Haji Komar di ILK (Indonesia Lawak Klub) 4 Juli 2014 (Mendadak Alim)

Kaum muslimin wal muslimat, mukminin dan mukminat, Pak Sabirin dan Pak Amat, tukang kain dan tukang tomat, yang sudah kawin maupun yang belum disunat. Para tokoh masyarakat, tokoh politisi, tokoh agama, tokoh wanita, tokoh pemuda, toko besi, toko baju, toko TV, dan lain sebagainya. Pimpinan ILK [Indonesia Lawak Klub] beserta seluruh jajaran dan perangkatnya yaitu seperangkat alat salat dibayar tunai ... sah.

Pak Denny, dalam sebuah bukunya, Ibnu Sina, seorang ahli fukaha, seorang ahli fiqih dan tasawuf, Ibnu Sina membagi kategori ibadah itu menjadi 3. Ada 3 jenis motivasi manusia melakukan ibadah.

Yang pertama, ada orang-orang yang melakukan ibadahnya semata-mata dia karena kepingin masuk surga. Kalau ada orang yang seperti ini, dia ibadahnya seperti pedagang, ibadahnya selalu main itung-itungan; untung dan rugi. Orang yang seperti ini akan kena penyakit yang namanya penyakit sum’ah, ria, ujub dan takabur; kepingin dipuji orang ibadahnya. Yang pertama.

Yang kedua, ada orang melakukan ibadahnya semata-mata karena rasa takutnya masuk neraka. Orang yang seperti ini adalah seperti budak. Capek dia ibadah. Dia akan terjebak dalam sebuah kegiatan ibadah yang bersifat rutinitas, ritual, yang penting gugurnya sebuah kewajiban. Itu yang kedua.

Yang ketiga, ada orang yang melakukan ibadahnya, dia tidak berharap apa-apa. Dia tidak berharap surga dan dia tidak takut masuk neraka; dia hanya berharap rida Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Rukuknya, sujudnya, iktikafnya, tadarusnya, hanya berharap rida Allah Subhanahu wa Ta‘ala ... dengan cinta. Sujudnya dengan cinta, puasanya dengan cinta.

Kalau segala sesuatu yang kita kerjakan penuh dengan cinta, tidak berasa apa-apa. Ada seorang Waliyullah [wali Allah] wanita, cantik jelita, namanya Rabi’ah al-Adawiyah. Di setiap sujudnya, sajadahnya selalu basah dengan tetesan air matanya; lidahnya tidak pernah kering karena zikir yang tidak pernah putus kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dia selalu berdoa, “Ya Allah, kalau saja sujud dan ibadahku ini semata-mata karena rasa takutku masuk neraka, tolong masukkan aku ke dalam neraka yang paling dalam sekarang juga ya Allah. Kalau sujud dan ibadahku ini semata-mata karena keinginanku masuk surga, tolong kunci saja pintu surga ya Allah. Aku bukan itu ya Allah, aku cinta kepadamu ya Allah.”

Saya kira itu yang harus kita pahami.

Ibadah puasa Ramadan adalah bersifat syirria (rahasia); hanya diri kita dengan Allah. Tidak ada yang tahu, tidak boleh ada yang tahu karena bersifat rahasia. Oleh sebab itu, biasa-biasa saja.

Lapar itu tidak ada. Haus itu tidak ada. Karena kita punya rasa. Rasa itu sesungguhnya karena kita punya rasa. Kalau garam rasanya apa? Asin. Siapa bilang garam itu asin? Yang mengatakan asin siapa? Karena kita punya rasa; karena ada rasa, kita merasakan asin. Gula itu rasanya? Manis. Siapa bilang gula itu manis? Yang mengatakan manis adalah rasa. Api itu rasanya apa? Panas. Api itu rasanya panas, tapi siapa bilang api itu rasanya panas? Buktinya, Nabi Ibrahim masuk ke dalam api dan tidak terbakar sedikit pun. Jadi, kita harus ngaji rasa.

Rasa lain lagi? Rasain kamu! :)

Jadi, Ramadan adalah sarana untuk ngaji rasa. (H. Nurul Qomar)
Share:

Jumat, 27 September 2013

Sejarah Singkat Berdirinya MAN Singkil

Para pelaku sejarah adalah orang-orang yang pantas mendapat penghargaan, yaitu paling sedikit berupa doa dan sanjungan (baik dalam bentuk tulisan maupun ucapan). Meskipun para pelaku sejarah itu sendiri tidak memintanya, namun sudah selayaknya penghargaan itu kita persembahkan untuk mereka karena mereka telah beramal secara ikhlas demi kemaslahatan umat.

Sebagai umat yang beragama pula, sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada mereka yang telah berjasa dalam merintis dan mengembangkan Madrasah Aliyah Negeri Singkil sejak awal hingga sampai saat ini. Sabda Rasul, “Tidak dianggap kamu bersyukur kepada Allah bila tidak berterima kasih kepada manusia.” Jadi, penulisan sejarah ini adalah dalam rangka terima kasih kami kepada para pionir yang telah berjasa kepada Madrasah Aliyah Negeri Singkil ini.

Ide berdirinya Madrasah Aliyah Negeri Singkil adalah gagasan dari para tokoh-tokoh masyarakat yang berdomisili di Singkil, khususnya desa Pasar Singkil, antara lain yaitu: Ust. Abu Sulaiman, Alm. Ust. Abdurrahman, Alm. Ahmad Rasnisyah, Ust. Ramlan, Ahmad Fauzi, serta tokoh-tokoh lain yang sangat peduli dengan pendidikan yang bernuansa islami.

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Singkil pertama sekali berdiri di Singkil dengan nama MAS (Madrasah Aliyah Swasta) pada tahun 1987, dan berlokasi di gedung kompleks masjid Muhammadiyah Taqwa di desa Pasar Singkil. Setelah adanya swadaya dari masyarakat, maka dibangunlah gedung MAN Singkil pada tahun 1992 dengan 3 bangunan yang sangat sederhana sekali di atas tanah wakaf seluas 8.500 m2 di Jalan Utama No. 21 Pasar Singkil, Aceh Singkil.

Pada periode awal berdirinya MAN Singkil, tenaga-tenaga pendidik di bidang studi agama maupun umum kebanyakan diperbantukan dari Kantor Urusan Agama (KUA), Pengadilan Agama dan guru-guru SMA. Madrasah Aliyah Negeri Singkil diresmikan penegeriaannya pada tanggal 22 Maret 1999 dengan SK Menteri Agama Nomor 71 Tahun 1999 tanggal 22 Maret 1999.

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Singkil adalah sebuah sekolah berciri khas Islam yang tercipta pertama sekali di desa Pasar Singkil, kab. Aceh Singkil. Terhitung hingga saat ini, MAN Singkil telah dipimpin oleh 6 Kepala Madrasah, yakni: Drs. Ramlan (1987–2000), Ida Warni AR, B.A. (2000–2004), Alm. Drs. Suhaili (2004–2008), Ahmad Fauzi, S.Ag. (2008–2010), Husnati, S.Ag. (2010–2011), Halimsyah, M.A. (2011–sekarang). Pada saat ini tenaga pendidik yang tetap berjumlah 13 orang, tenaga tidak tetap 13 orang, sedangkan tenaga kependididkan berjumlah 2 orang.

Dengan dibantu oleh Pemda (Pemerintah Daerah) dan BRR Aceh, kondisi bangunan MAN Singkil kini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Madrasah Aliyah Negeri Singkil adalah lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Sampai saat ini MAN Singkil telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana sebagai daya dukung pengembangan keilmuan yang dibutuhkan. Selain itu, MAN Singkil juga memiliki tenaga pengajar yang cukup handal, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Telah tersedia sejumlah fasilitas pendukung seperti laboratorium, perpustakaan, musala, serta fasilitas seni dan olahraga. Keinginan yang kuat dari lembaga ini adalah menampilkan sosok madrasah yang bukan hanya sekadar tempat informasi ilmu yang berlangsung formal dan mekanis sifatnya, lebih dari itu, MAN Singkil juga ingin menjadikan dirinya benar-benar sebagai rumah ilmu, yakni rumah ilmu bagi para penghuninya yang mempunyai ciri khas mengedepankan keberanian yang bertanggung jawab, kebebasan yang didasari kekuatan nalar yang kukuh serta keterbukaan dalam menerima segala informasi keilmuan yang diperlukan.

Yang diinginkan lembaga pendidikan sebagai rumah ilmu adalah: terwujudnya sumber daya manusia masa depan yang memiliki kedalaman spiritual, kekukuhan intelektual, moral yang tinggi, keterampilan handal yang semuanya termanifestasikan dalam bentuk kesalehan teologis, juga kesalehan sosial serta memiliki visi yang jelas dan wawasan yang luas.


Sumber: Tata Usaha MAN Singkil
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter