Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Selasa, 10 Mei 2016

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 10 Mei 2016 (Di Balik Profesi)

Kang Maman Di Balik Profesi

Idealnya, menjalani hidup dan profesi itu sesuai dengan apa yang kita impikan (apa yang kita cita-citakan) sejalan dengan minat serta bakat kita, juga jika kita bisa hidup dari profesi itu. Tetapi kehidupan tidak selamanya berjalan ideal; impian, minat, bakat, dan bisa menghidupi kerap kali tak berjalan beriringan. Dan seseorang pun kemudian memilih profesi bisa saja semata karena status. Dalam arti, tentu saja seseorang yang telah punya pekerjaan akan memiliki status yang lebih dibanding pengangguran, apalagi jika bisa mendapatkan penghasilan yang lebih dan bisa menghidupi, juga bisa membiayai pendidikan anak, misalnya—seperti yang disampaikan Ibu Karmineng tadi.

Dan menurut sebuah analisis psikologis, jika suatu pekerjaan sudah menyenangkan meski bukan yang dicita-citakan, hampir pasti orang akan melupakan cita-citanya dan tetap melanjutkan profesinya. Jadi, kata kuncinya adalah menyenangkan dan menikmatinya.

Karenanya, tadi para panelis menemukan satu titik temu yang sama: Profesi itu ibarat jodoh bagi kita. Idealnya, menikahi orang yang kita cintai, tapi jauh lebih baik mencintai orang yang kita nikahi. Idealnya, menjalani profesi yang kita cintai dan cita-citakan, tapi lebih baik lagi mencintai profesi yang kita jalani dengan sepenuh hati.

Terakhir, jangan mencari kesempurnaan, tapi sempurnakan saja apa yang telah kita jalani dan apa yang ada pada diri kita. (Maman Suherman)
Share:

Senin, 09 Mei 2016

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 9 Mei 2016 (Dongeng di Negeri Dongeng)

Kang Maman Dongeng di Negeri Dongeng

Walau sederhana, anak-anak biasanya sangat serius mendengarkan dongeng jika cerita dan penyampaiannya menarik. Karenanya, jika ingin memberi efek positif bagi perkembangan mental anak, sebelum dibacakan sebaiknya baca terlebih dahulu agar bisa mengetahui apakah dongeng itu layak dibacakan kepada anak atau tidak.

Ada beberapa manfaat dongeng yang tersimpulkan dalam pembicaraan tadi. Pertama, mengajarkan nilai moral yang baik kepada anak. Dengan memilih dongeng yang isi ceritanya bagus—seperti diungkap Kang Denny dan Pak Jarwo—akan tertanam nilai-nilai moral yang baik, asal setelah mendongeng beri penjelasan pada anak, mana yang baik dan patut ditiru dan mana yang tidak.

Jika itu dilakukan, mendongeng terbukti menurut penelitian bisa memiliki efek yang lebih baik daripada mengatur anak dengan cara kekerasan—memukul, mencubit, menjewer, atau membentak, misalnya. Kedua, mampu mengembangkan daya imajinasi anak. Ketiga, menambah wawasan anak. Keempat, meningkatkan kreativitas anak. Yang kelima, dongeng bahkan bisa menghilangkan ketegangan. Jika anak sudah hobi mendengarkan cerita dongeng maka anak-anak akan merasa senang dan bahagia jika mendengarnya. Perasaan senang diseling canda tawa membuat rasa tegang, mood yang buruk, akan hilang dengan sendirinya.

Terakhir, tadi disinggung oleh Kak Awam dan yang tak kalah pentingnya, mendongeng mendekatkan anak dengan orang tuanya. Terjadi interaksi tanya jawab antara anak dengan orang tua yang secara tidak langsung akan mempererat tali kasih sayang dan mendekatkan hubungan emosional.

Karenanya, Bapak dan Ibu, daripada sibuk sendiri dengan gadget-mu yang tak bisa tersenyum dan memelukmu dengan hangat, lebih baik gunakan waktumu untuk mendongeng pada buah hatimu karena akan kau dapatkan bonus keajaiban yang tak akan kau lupakan sepanjang masa: ekspresi keingintahuan, rona ketertakjuban, denyut jantung yang mendebur jantungmu saat kamu mendongeng dan memeluk anakmu, dan pesona cinta dalam sinar mata buah hatimu yang teramat polos dan jujur.

Jadi, seperti kata Ronal:
Mendongenglah pada buah hatimu, tabur benih kebaikan sedari dini, kelak akan kau tuai kebaikan dan kebahagiaan yang diberikan anak-anakmu di masa tuamu. (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 03 Mei 2016

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 3 Mei 2016 (Indonesia Lawak Kebugaran)

Kang Maman Indonesia Lawak Kebugaran

Menyimak kelas yoga dan zumba juga freeletics malam ini dan sekaligus pemaparannya, mengingatkan saya pada Daniel Landers, profesor pendidikan dari Amerika Serikat, yang mengungkapkan ada lima manfaat olahraga terhadap otak manusia.

Yang pertama, meningkatkan kemampuan otak, karena olahraga bisa meningkatkan jumlah oksigen dalam darah dan mempercepat aliran darah menuju otak. Yang kedua, membantu menunda proses penuaan, bahkan cukup dengan olahraga berjalan kaki di sekitar rumah. Ketiga, mengurangi stres, kegelisahan, bahkan bisa membantu mengendalikan amarah. Keempat, menaikkan daya tahan tubuh, karena olahraga bisa meningkatkan hormon-hormon baik dalam otak, juga bisa menyembuhkan depresi tanpa obat lewat olahraga selama empat bulan; tiga kali seminggu, masing-masing 30 menit. Dan yang kelima, memperbaiki kepercayaan diri.

Jadi, olahraga (termasuk yoga dan zumba), mampu menyeimbangkan tubuh, pikiran, dan batin dalam kehidupan sehari-hari. Fisik meregang, melentur, tidak menegang, apalagi mengekang. Darah mengalir sempurna, energi pun semakin bebas dan lancar mengalir deras di dalam tubuh.

Olahraga tak cuma olah fisik, tapi juga olah batin. Apa arti tubuh sehat jika di dalamnya tak ada jiwa yang sehat? Dan apa arti ikut sport kalau jiwa tidak sportif? Karena tujuan dasar olahraga—seperti kita lihat tadi—adalah menaklukkan diri sendiri, bukan untuk menaklukkan apalagi mencelakakan orang lain. Jadi, teruslah berolahraga! (Maman Suherman)
Share:

Senin, 02 Mei 2016

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 2 Mei 2016 (Ada Apa dengan Cekolah?)

Kang Maman Ada Apa dengan Cekolah?

Pendidikan itu proses, sebuah gerakan yang membawa seseorang dari kegelapan menuju terang (menuju cahaya). Kalau kita masih saja belum berhasil membawa anak didik menuju cahaya, para pendidik dan juga orang tua harus bertanya, “Apa yang salah dengan kami?” bukan, “Apa yang salah dengan murid?”

Apakah kita masih mengingat dan menjalankan apa yang telah ditanamkan Ki Hadjar Dewantoro, “Di depan memberi contoh, di tengah memberi motivasi (menggugah semangat), dan di belakang memberi dorongan; Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Di sisi lain, siswa juga harus mengingatkan dirinya:
Kita pintar bukan karena diajar, tapi karena belajar. Dan kelulusan ujian bukanlah akhir, tapi justru awal dari proses menghadapi ujian kehidupan yang tidak lebih ringan. Kita belum lulus paripurna meski nilai rapor kita baik kalau nilai kelakuan kita masih buruk. Dalam bahasa Ronal tadi, “Yang kita tuju adalah nilai kehidupan, bukan semata nilai rapor.”

Terakhir:
Bunga tumbuh mekar mewangi karena sentuhan lembut air hujan, bukan oleh petir yang menggelegar. Pertanyaannya, apakah kita (guru dan orang tua) masih menjadi orang yang bersuara menggelegar mengentak penuh amarah, atau sudah berubah menjadi guyuran air hujan yang menyegarkan dan menyuburkan?

Kata kunci dari Ki Hadjar Dewantoro:
Tanpa kEtelaDANan, kita akan melahirkan generasi EDAN. (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter