Penulis: Irwan Syahputra Lubis, 15 Oktober 2015
Pembongkaran (pembakaran) satu unit tempat ibadah umat Nasrani
beberapa hari yang lalu di desa Suka Makmur, kecamatan Gunung Meriah, kabupaten
Aceh Singkil, oleh sekelompok orang murni karena tidak adanya izin mendirikan bangunan (IMB).
Bukan karena umat Islam di Aceh Singkil tidak toleran atau ingin
membalaskan dendam umat muslim di Tolikara, Papua, yang masjidnya
dibakar pada hari raya Idulfitri lalu. Sialnya, judul berita selalu: “Gereja Dibakar”. Sial bagi umat
Islam. Tidak pernah ada judul: “Gereja Ilegal Menjamur di Aceh Singkil”. Media hanya memberitakan apa yang terjadi, bukan penyebab kejadiannya.
“Ya.. pembakaran gereja tentu salah.. tapi melihat akar persoalannya
jauh lebih penting...sopo sing wis tau neng Aceh Singkil ?” – @pristwn
Seperti diketahui, perjanjian antara masyarakat muslim dan Nasrani yang berada di Aceh Singkil menyepakati bahwa yang diizinkan satu
gereja
dan empat undung-undung (setingkat musala). Tetapi kemudian, jemaat gereja
berkembang. Itu sedikit menimbulkan “
riak-riak”. Akhirnya pada 2001,
perjanjian diperbarui: “Penduduk nonmuslim diberi kesempatan untuk
mengurus izin ke Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.”
Jadi, sekali lagi, tempat ibadah yang dibongkar adalah yang tidak
memiliki izin, bukan karena umat muslim intoleran atau anti kepada
nonmuslim. Namun yang sangat disayangkan adalah, adanya segelintir orang
yang melayangkan komentar-komentar (status) di media sosial yang
seolah-olah mencerminkan bahwa umat Islam di Aceh Singkil tidak toleran,
seperti, “Hancurkan semua gereja yang ada di kabupaten Aceh Singkil; Hancurkan orang-orang kafir,
” dan lain sebagainya.
Kami, umat Islam Aceh Singkil, sangat menghargai perbedaan. Buktinya,
gereja atau
undung-undung yang (telah) memiliki izin, toh tidak ada yang
protes atau tidak ada yang mengeluhkan keberadaannya. Sebagian besar
dari kami juga hidup damai berdampingan dengan masyarakat nonmuslim.
Hmmm, terhadap yang mengeluarkan komentar-komentar “picik
” itu; yang tidak (belum atau tidak mau) memahami arti
perbedaan, saya jadi teringat
tweet dari akun Twitter @NUgarislucu di bawah ini:
Ajaib, melihat awan bertulis 'Allah' kau bilang tanda kebesaran Tuhan.
Tapi perbedaan suku, bangsa, dan agama, kau ingkari sebagai tanda-tanda
[kebesaran]-Nya.
“Kiai, apa tanda-tanda kerasnya hati?”
“Saat melihat gereja kau takut imanmu runtuh. Tapi saat membaca Al-Qur'an, tak sedikit pun hatimu tersentuh.”
***
Ah, semoga kita lebih berhati-hati dalam berkomentar. Karena komentar
yang kita keluarkan sangat boleh jadi menjadi tolok ukur bagi sebagian
orang sehingga dengan mudah mengatakan, “Umat Islam di Aceh Singkil
tidak toleran; Umat Islam di Aceh Singkil tidak memahami arti
kebinekaan
,” dan stigma-stigma lainnya.
Semoga kita bisa memahami segala sesuatu dengan murni, baik, dan benar. Ya, semoga.
Baca juga:
• Pangdam Sebut Umat Islam di Aceh Singkil Sudah Sangat Toleran —>
• Di Singkil, PGI: “Memang benar ada 24 gereja tidak berizin” —>
• Parkindo: Pembangunan 21 Gereja di Aceh Singkil Berlebihan —> http://goo.gl/uLkNwz
• Kepala BIN Harap Peristiwa Aceh Singkil Tidak Dibesar-besarkan —> http://goo.gl/9TxYwI