Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Rabu, 23 September 2015

Selamat Hari Raya Iduladha 1436 H

“Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Hajj : 37)

Selamat hari raya Iduladha 1436 H/2015 M, mudah-mudahan kita menjadi hamba yang senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, aamiin ya Rabbal alamin.. :)

#semoga
Share:

Selasa, 22 September 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 22 September 2015 (Jerat Rentenir)

Kang Maman Jerat Rentenir

“Jika tak ingin terjerat rentenir,” kata Cak Lontong, “jerat terlebih dahulu nafsu berfoya-foyamu; nafsu mengutamakan keinginan daripada kebutuhan.” Dan bila karena suatu hal mendesak tak bisa menghindar dari berurusan dengan rentenir, secepat mungkin upayakan lepas dari jerat mereka, atau Anda tak bisa lepas dari “rantai” yang mereka jeratkan untuk selamanya.

Karena meminjam kepada rentenir prosesnya bisa sangat cepat, seperti membalik telapak tangan, tetapi ia juga bisa mencabut nyawa dengan sekali hentak. Penarik rente bak sosok nirhati (tanpa hati), yang melilitkan rantai besi teramat berat ke leher orang lain yang justru sedang susah bernapas. Tetapi sosok Pak Bopak, mewakili para rentenir mengatakan, “Saya kan menolong.”

Dalam agama tegas disebutkan, utang piutang adalah tolong menolong dan perbuatan yang baik. Namun, jika dipersyaratkan ada tambahan dalam pengembalian, itu sudah keluar dari tujuan mengutangi. Terminologi ‘menolong’ kan artinya ‘tidak menyengsarakan’?

Karenanya, agama betul-betul mengingatkan, “Transaksi riba lebih besar dosanya daripada berbuat zina 36 kali.”

‘Riba’ tak cuma bikin ‘iba’, tapi juga penyebab ‘aib’! (Maman Suherman)
Share:

Senin, 21 September 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 21 September 2015 (Indonesia Kekinian)

Kang Maman Indonesia Kekinian

Tema malam ini sungguh beragam, persis rasa permen manis-asam-asin rame rasanya. Demikianlah hidup dan kehidupan ini, berwarna-warni.

Di segmen awal, Setya Novanto, Fadli Zon, dan Donald Trump. Betul kata Pak Jarwo, ada jargon satire, “Politik tidak boleh salah, tapi boleh berbohong.” Namun, rakyat yang masih punya mata hati dan tidak “terbeli”, hanya inginkan satu hal: Wakilnya tidak boleh berbohong.

Dalam politik, sejumlah alasan bisa jadi mainan kata penutup kebohongan. Tapi kalau terbiasa menabur kebohongan, bersiaplah menuai balasan kehancuran.

***

Tentang batasan pacaran. Bukankah di dalam kata ‘pacaran’ ada kata ‘acar’?
Pacaran bukan hal utama, hanya cacahan kecil mentimun dan bawang di tepi piring kehidupan. Ada atau tidak, bukan menu utama dan tidak bisa menjadi pengganti menu utama. Jadi, benar kata Kang Denny, “Menu utama pelajar: belajar, bukan berpacaran.”

***

Tentang kereta cepat. Yang utama bukan soal cepatnya, tapi tepatnya keputusan yang diambil.

***

Dan tentang perkuliahan. Kalau bisa cepat, mengapa ditunda-tunda? Kan kursinya bisa dipakai oleh adik-adik kita yang lulus SMA, yang juga ingin merasakan bangku kuliah?

***

Kesimpulan terakhir:
Terhadap siapa pun—pelajar, mahasiswa, apalagi jika sudah menjadi pejabat publik atau wakil rakyat yang wajib memegang amanah seperti Fadli Zon atau Setya Novanto—jadilah 4 kartu as dalam 52 minggu kartu kehidupan tahun demi tahun, yaitu: Jadilah orang-orang yang tidak cuma bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas, bekerja ikhlas, dan bekerja tuntas, agar hidupmu menjadi berkualitas! (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 15 September 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 15 September 2015 (Lagu Cinta, Antara Benci tapi Suka)

Kang Maman Lagu Cinta, Antara Benci tapi Suka

Cinta adalah jawaban bagi kebutuhan manusia, untuk mengatasi keterpisahan dan meninggalkan “penjara kesepian”. Dan penyatuan dalam cinta melebihi suatu simbiosis, karena cinta yang dewasa adalah peyatuan di dalam kondisi di mana tetap memelihara integritas seseorang, individualitas seseorang.

Cinta menyatukan aku dan kamu menjadi kami, tanpa mematikan aku dan juga kamu. Dan di era kapitalisme, cinta pun mewujud menjadi barang dagangan, menjadi komoditas. Berjuta kisah cinta diumbar dalam lagu dan juga sinetron. Dan saking banyaknya berakibat kata dan makna cinta serta praktiknya dalam hubungan sosial mengalami degradasi.

Tetapi yang pasti, cinta tetaplah cinta. Karl Marx bahkan berkata, “Cinta hanya dapat ditukar dengan cinta.” Dan di tengah perdebatan tadi kita merasakan, cinta yang benar tidak pernah meminta; cinta senantiasa memberi. Dan di mana ada cinta, di situ ada kehidupan. Sebaliknya, di mana ada kebencian, di situ ada kemusnahan.

Dan cinta mengajarkan: Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu merasa sanggup. Dan jangan sesekali mengatakan tidak mencintainya lagi bilamana kamu masih belum dapat melupakannya.

Bukan laut namanya jika air tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Dan bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu serta cemburu.

Dan semua itu tadi tertuang dalam lirik-lirik cinta yang “kacangan” maupun yang dewasa. Itulah cinta. Tidak pernah berpikir benar atau salah, tertuang dalam lrik lagu “kacangan”, melankolis, mendayu, atau berkualitas. Karena cinta bisa tumbuh begitu saja dan di mana saja, seperti biji tetumbuhan yang diterbangkan perasaan, dan ditunaskan oleh hujan air mata, lalu berlabuh pada tempat dan hati yang diinginkan-Nya.

Dan terakhir, ada atau tidak cinta itu dalam lirik lagu, cinta yang diridhoi-Nya akan tumbuh menjadi ibadah, cinta yang tak diridhoi-Nya akan bertunas menjadi musibah. (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter