Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Rabu, 15 Juli 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 14 Juli 2015 (Euforia Menjelang Hari Raya)

Kang Maman Euforia Menjelang Hari Raya

Idulfitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan berpuasa, yaitu menjadi manusia yang bertakwa. ‘Id’ artinya ‘kembali’. ‘Fitri’ bisa berarti dua: bisa berarti ‘buka puasa untuk makan’, dan bisa berarti ‘suci’.

Jadi, Idulfitri adalah hari raya di mana umat Islam kembali berbuka atau makan, tidak lagi berpuasa, bahkan 1 Syawal haram berpuasa. Sekaligus fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan. Sebagaimana hadis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap rida Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang salat malam di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap rida Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Dalam bahasa Jawa, Idulfitri dikenal dengan istilah ‘Lebaran’, yang mengandung makna: lebar, lebur, luber, dan labur. ‘Lebar’ artinya ‘lapang hati dan jalan’ karena telah terlepas dari kemaksiatan, lebur dari dosa, luber pahala, luber keberkahan, dan luber rahmat Allah. Dan ‘labur’ artinya ‘bersih’, sebab bagi orang yang benar-benar melaksanakan puasa, maka hati akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa.

Makanya di banyak daerah di Jawa, rumah-rumah menjelang Lebaran dilabur (dicat putih ulang), yang mengandung arti pembersihan lahir, di samping pembersihan batin setelah kita melakukan puasa.

Dan diingatkan oleh Ust. Solmed [Soleh Mahmud] tadi, “Kalau kita berpakaian indah, jangan biarkan tetangga kiri dan kanan tidak ikut merasakan hal yang sama.” Bukankan berbuat baik untuk diri sendiri itu hanyalah kesenangan, tetapi berbuat baik untuk sesama itulah kebahagiaan?

Jadi, hiasi hari rayamu, hiasi kembali sucimu dengan berbagi, bersilaturahmi, bertasbih, bertahmid, dan bertakbir, bukan dengan berpamer. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. (Maman Suherman)
Share:

Senin, 13 Juli 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 13 Juli 2015 (Di Balik Mudiknya Asisten Rumah Tangga)

Kang Maman Di Balik Mudiknya Asisten Rumah Tangga

Para ulama fiqih mengatakan bahwa hukum asal manusia itu merdeka, bukan budak atau hamba sahaya. Jadi, asisten rumah tangga sekalipun adalah manusia merdeka yang memberikan jasa tenaga dalam pekerjaan rumah tangga sehari-hari, yang mempunyai hak dan kewajiban yang harus dipenuhi seperti layaknya manusia merdeka lainnya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka (asisten rumah tangga kita) adalah saudara-saudara kalian juga, yang Allah jadikan mereka berada di bawah tanggung jawab kalian. Maka barang siapa yang Allah jadikan mereka bertanggung jawab atas saudaranya, maka dia mesti memberi saudaranya itu makanan dan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan, dan membantunya dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sulit.”

Jadi, asisten rumah tangga jangan seperti lirik lagu Burung Camar, “cuma kisah sedih nada duka, hati yang terluka.” Tapi jadikan ia sebagai saudara, teman berbagi derita, mungkin juga berbagi cerita. Karena sebagaimana kita, ia juga manusia.

Dan ingat, asisten rumah tangga cuma membantu, bukan pengganti. Tokoh utama mengurus, mendidik anak, dan rumah tangga tetap tuan rumah itu. Dan Nabi bersabda, “Apa yang kamu ringankan dari pekerjaan rumah tanggamu, bagimu pahala di neraca timbanganmu.” (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 07 Juli 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 7 Juli 2015 (Lika-liku Poligami)

Kang Maman Lika-liku Poligami

Menurut Syeikh Mustafa al-‘Adawi, poligami mempersyaratkan 4 hal:

Yang pertama, aman dari lalai beribadah kepada Allah. Seorang yang berpoligami harusnya bertambah ketakwaannya, dan rajin dalam beribadah. Kalau malah lalai beribadah, ia bukanlah orang yang pantas berpoligami.

Yang kedua, mampu menjaga para istrinya. Suami wajib menjaga istri-istrinya agar terjaga agama dan kehormatannya agar tidak terjerumus dalam keburukan dan kerusakan. Jika tidak mampu, ia tidak pantas berpoligami.

Yang ketiga, seorang yang berpoligami wajib cukupi kebutuhan nafkah istrinya. Bagaimana ia ingin berpoligami sementara nafkah untuk satu istri saja belum cukup? Orang semacam ini juga sangat berhak untuk dilarang berpoligami.

Dan yang keempat, yang paling utama, harus mampu berbuat adil. Nabi bersabda, “Siapa saja orang yang memiliki dua istri, lalu lebih condong kepada salah seorang di antaranya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.” Jadi jika tak mampu adil, Allah berfirman dalam An-Nisaa’: 3, “... kemudian jika kamu khawatir tidak mampu berbuat adil, maka nikahilah satu orang saja....”

Jadi, poligami itu boleh, tapi syaratnya tidak mudah. Poligami bukan jaminan kebahagiaan. Satu bahagia, dua lebih bahagia, bukan! Tapi poligami justru ujian tentang mampukah menegakkan keadilan, dan bagi perempuan yang mengaku rela dipoligami, adalah ujian untuk menegakkan keikhlasan.

Intinya, poligami itu ujian yang sungguh sangat tidak ringan, yang sungguh jauh dari pujian insan. Dan yang tak kalah penting, mari jadikan rumah tangga kita sebagai surga kita (baiti jannati) yang syarat adil ada di dalamnya. (Maman Suherman)
Share:

Senin, 06 Juli 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 6 Juli 2015 (Kartu Ajaib)

Kang Maman Kartu Ajaib

Utang piutang adalah muamalah yang dibolehkan, namun diberi rambu-rambu yang ketat, dan ada adabnya untuk berhati-hati menjalankannya. Karena jika salah, bisa menjerumuskan kita ke neraka, terutama bagi orang-orang yang cerdik dalam berhutang, tetapi licik saat diminta melunasinya.

Jangankan bicara akhirat, masalah dampak utang di dunia pun sudah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat hadisnya, “Berhati-hatilah kamu dalam berutang, sesungguhnya utang mendatangkan kerisauan di malam hari dan kehinaan di siang hari.”

Jadi, jangan jadikan kartu kredit sebagai alat untuk gaya. Ingat kata Cak Lontong, “Makin gaya karena berutang, akan berakibat makin banyak tekanan dalam kehidupan.” Karena kartu kredit itu utang, bukan uang. Harus dilunasi, bukan disiasati, apalagi sampai dibawa mati dan menjerumuskan ke dalam api abadi! (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter