Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Minggu, 28 Mei 2017

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 28 Mei 2017 (Pilih Mana?)

Kang Maman – Pilih Mana?

“Nggak punya rumah, bisa kontrak,” kata Cak Lontong. Atau tinggal sementara di “vila mertua indah”, toh halal. Apalagi, kata Mas Jarwo, “Dengan menikah, otomatis kita punya rumah tangga.” Nggak nikah, nggak punya pasangan hidup, memang sih bisa bayar dan beli teman tidur. Tetapi tetap saja yang transaksional itu tak bisa jadi teman hidup—semata teman tidur, dan yang pasti tidak halal.

Ujian sederhana orang tua kita, cinta jangan pernah membuatmu menghinakan diri. Jadi meski belum punya rumah tapi sudah siap menikah, tersirat dari simpulan Kang Denny:
Tekadkan untuk akadkan dan halalkan, atau tinggalkan dan doakan. [segmen 1]

***

Supaya Arafah tidak bingung, Cak Tato tadi menitipkan pesan yang tersirat dan tersurat:
Jangan cari yang luar biasa, nggak bakal ketemu. Tapi percayalah: pasangan yang kelak menikahimu, memang bukan makhluk yang luar biasa. Justru kamulah yang kelak yang menjadikannya luar biasa. Karena pernikahan tak menyatukan dua orang yang sempurna, tapi satu sama lain saling menerima dengan sempurna.

Dan yang terakhir:
Sungguh indah menikahi orang yang kamu cintai, tetapi lebih indah lagi mencintai orang yang kamu nikahi. [segmen 2]

***

Dalam cinta, terkadang kita menemukan orang yang salah sebelum akhirnya mendapatkan orang yang tepat. Jangan lantas memaki kesalahan, karena kerap kesalahan justru mendewasakan. Termasuk jangan memaki mantan. Justru berterima kasihlah, karena mantan adalah guru terbaik yang pernah mengajarkan kita pedihnya tersakiti.

Jadi, haruskah kita memenuhi undangan pernikahan mantan? Bedu dan Cak Lontong memberi pelajaran berharga:
Karena kita tahu tak memenuhi undangan itu bisa menyakiti pengundang, juga memutus silaturahmi, maka jika tak bisa membantu, jangan menyakiti. Hadiri saja. Saat bisa membantu tapi malah disakiti, bersabar hati, jangan balas menyakiti, yang akan mengurangi nilai kebaikan itu sendiri.

Tengoklah kerang; ia beri mutiara dan dibuat terluka, ia tak membalas, bahkan dagingnya ikut diberikannya. Itulah ikhlas, kata Selfi, melepaskan, mendoakan. [segmen 3]

***

Tentu pilihan yang terbaik adalah tidak membohongi diri sendiri. Karena kejujuran mendamaikan, kebohongan menghantui.

Orang bijak selalu mengingatkan:
Lebih baik dihempas tamparan kejujuran, daripada dielus dan dikecup kebohongan.

Stalking? Daripada mengurusi orang lain, lebih baik menggemukkan pahala diri sendiri. [segmen 4]

***

Pernyataan Mas Jarwo dan silogisme Cak Lontong sungguh sangat dalam maknanya kalau kita mau menyimaknya.

“Pilih mana?” itu pertanyaan paling mendasar kita sejak segmen pertama. Tentu saja semua bisa dengan mudah menjawab, “Pilih kebahagiaan.”

Lalu apa itu kebahagiaan? Karena episode kehidupan manusia tak selamanya membagiakan? Betul. Jadi mari ingatkan pada diri:
Kebahagiaan bukan harus memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan mampu memaknai air mata sebagai penyiram kebun pengharapan; mampu memaknai kehilangan sebagai pengukuh kesabaran; mampu memaknai kegagalan sebagai landasan ketenangan hati; memaknai penderitaan sebagai fondasi kenikmatan; dan memaknai kesulitan sebagai pembuka jendela kecerdasan.

Dan mari yakini satu:
Dia yang di atas sana tak pernah meninggalkan umat-Nya. Percayalah, jika kita sudah angkat tangan, Dia pasti akan turun tangan dan kebahagiaan pasti akan menjelang. (Maman Suherman)
Share:

Sabtu, 27 Mei 2017

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 27 Mei 2017 (Mengejar Rezeki atau Ibadah?)

Kang Maman – Mengejar Rezeki atau Ibadah?

Ramadan bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari siksa. Jangan biarkan berlalu percuma. Isi dengan berlomba-lomba berbuat kebajikan, berburu ampunan.

Jika mampu ke Baitullah (berumrah), silakan. Asal kuatkan niat, seperti halnya niatan-niatan saat menjalankan kebaikan dan ibadah-ibadah khas di bulan Ramadan. Sebagaimana sabda Rasul, “Barang siapa berpuasa karena iman, melakukan salat malam karena iman, melakukan salat malam di lailatukadar karena iman dan semata mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Dengan satu catatan: bukan semata puasa bodi, tapi juga puasa budi. Karena puasa Ramadan tak semata bersifat fisik (menahan lapar dan dahaga), tapi upaya penyucian budi (spiritualitas yang suci) agar kembali fitri, takwa, dan bercahaya—minadzhulumati ilan-nur.

Lalu yang kedua, tiba-tiba berhijab saat Ramadan. Tadi teman-teman mengingatkan, mari ber-husnuzan, siapa tahu itu menjadi awal untuk berubah menjadi lebih baik. Urusan niat adalah urusan individu dengan Tuhannya, kita tak punya kuasa untuk menilai dan mengadilinya. Kita hanya wajib meyakini dan mengingatkan pada diri sendiri: Allah memberikan pahala sesuai niatnya. [segmen 3]

*Segmen 1 & 2: Umrah di Bulan Ramadan
*Segmen 3: Hijaber Musiman di Bulan Ramadan

***

Silakan meraup berkah Ramadan, termasuk berbisnis perjalanan umrah, berbisnis hijab, atau bisnis apa pun. Karena kata teman-teman, itu juga ibadah.

Sepanjang dijalankan dengan jujur, tidak curang, tidak mengurangi takaran, tidak berbohong soal kualitas yang dibisniskan, yang bisa merusak nilai ibadah puasa kita, hingga turun pada level semata menahan lapar dan dahaga—semata puasa bodi.

Di sisi lain, terlintas tadi diingatkan kata “menahan lapar”. Dalam Ramadan, semestinya sejalan dengan hemat. Dan itu baik, seperti diucapkan Umar radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya Allah mencintai perbuatan hemat dan membenci perbuatan boros dan mubazir.”

Kesenangan tubuh terletak pada hemat makan; kesenangan jiwa terletak pada hemat kesalahan; kesenangan hati terletak pada hemat kepentingan; dan kesenangan lidah terletak pada hemat bicara yang bukan-bukan.

Poin kedua, khusus tentang hijab. Silakan memodifikasi, tapi mari sadari bersama, pakaian islami itu simpel: tidak transparan menerawang, tidak ketat membentuk lekuk, dan menutup aurat. Dan berhijab, semata karena cinta pada-Nya serta pada Islam yang diyakini kebenarannya.

Dan yang terakhir, saya teringat pada kalimat putri saya, “Pak, berhijab bagiku: I cover my hair, not my brain.” (Maman Suherman)
Share:

Minggu, 21 Mei 2017

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 21 Mei 2017 (BPJS [Budget Pas-Pasan, Jiwa Sosialita])

Kang Maman – Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita

Menyimak perdebatan tadi, teringat pada pendiri dan CEO Facebook, triliuner Mark Zuckerberg, tak ada yang tak bisa dibelinya. Tapi ia memilih membeli baju kaos bermodel dan berwarna sama: abu-abu. Bukan semata menghemat uang, tapi katanya untuk menghemat waktu saat memilih pakaian. Memilih rumah sederhana untuk tak pamer kekayaan dan tetap rendah hati, sekaligus menghemat biaya pemilikan dan perawatan rumah. Dan yang terpenting baginya, yang penting adalah keamanan lingkungan dan kenyamanan.

Mark juga menggelar pernikahannya di halaman rumah, bukan di tempat yang mewah. Dan meski sanggup membeli jet pribadi, ia ke mana-mana hanya mengendarai mobil Volkswagon ke kantornya atau ke berbagai tempat. Tapi dalam soal kedermawanan—sejalan dengan Cak Lontong tadi—ia justru sangat berfoya-foya. Ia mendirikan organisasi kemanusiaan yang fokus pada pendidikan dan kesehatan dunia. Ia percaya betul: berbuat baik untuk diri semata, itulah kesenangan. Tapi berbuat untuk sesama, itulah senyatanya kebahagiaan.

Dan sejiwa betul dengan kalimat Ronal tadi:
Hidup itu murah, merk yang membuatnya mahal. Hidup itu sederhana, gengsi yang merumitkannya.

Dengan tiga kunci: nyaman, tak merepotkan, dan dermawan, Mark seperti mengajarkan kita untuk mengubah istilah BPJS, dari “Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita” menjadi “Budget Pol-polan, Jiwa tetap Sederhana”. [segmen 2]

***

Kunci klasiknya terungkap: Utamakan kebutuhan di atas keinginan.

Dalam psikologi keuangan, kita menemukan fakta: Makin tinggi penghasilan seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan—yang tadi mungkin kita kenal sebagai hedonic treadmill. Simpelnya seperti ini: Saat gaji 5 juta, semuanya habis. Saat gaji naik 30 juta bahkan 50 juta per bulan pun, semua habis juga.

Kenapa bisa seperti itu? Karena ekspektasi dan gaya hidup pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilan. Tadi tersirat dari pernyataan Gilang dan juga Ronal:
Nafsu untuk membeli dan menyicil barang mewah akan terus meningkat, sejalan peningkatan perhasilan. Itulah yang disebut hedonic treadmill. Seperti bejalan di atas treadmill; kebahagiaan tidak maju-maju, sebab nafsu penguasaan materi tidak akan pernah terpuaskan.

Lalu apa yang harus dilakukakan? Tadi tersirat dalam kotak “empat kotak” yang dibuat oleh Ronal. Di sinilah relevan untuk terus mempraktikkan gaya hidup minimalis, bersahaja, atau—isitilahnya—qanaah. Sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi. Seperti kalimat Ronal, “Hidup itu sederhana, bersahaja, qanaah. Merek semata yang memahalkannya.”

Kuncinya:
Lingkaran, sekecil apa pun, sepanjang dia bulat utuh, dia sempurna 360 derajat. Tetapi sebaliknya, lingkaran sebesar apa pun kalau tidak sempurna, dia tidak akan bisa mencapai 360 derajat. Dan penyempurna lingkaran kebahagiaan itu adalah: BERSYUKUR. [segmen 4]

***

Yang pertama, mungkin betul tidak etis menagih utang di media sosial. Tetapi yang jauh lebih tidak etis, tidak mau bayar utang namun tetap bergaya sosialita. Dan poin keseluruhan dari diskusi kita tadi, sungguh menarik belajar dari alkitab, yang melihat fenomena selalu berpasang-pasangan. Dalam Al-Qur’an, misalnya, ada ayat seperti ini, “Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. Dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan. Dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.” Tetapi, “Dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan ….” Ternyata pasangan kekayaan bukan kemiskinan. Tapi Qur’an surah 53 ayat 48 mengatakan, “Dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.” Asal kita tidak BPJS (budget pas-pasan, tapi jiwa sosialita).

Dengan jiwa BPJS seperti itulah, kita sendiri yang melahirkan kemiskinan, bukan takdir. Kita yang membangun pola pikir dan tindak mewujudkan kemiskinan itu sendiri. Buktinya, banyak orang yang hidupnya pas-pasan, tapi tidak pernah mengeluh dan kekurangan atau merasa miskin, bahkan tetap tersenyum dan merasa berkecukupan. Kuncinya berulang: Karena mereka senantiasa bersyukur, membangun rasa keberlimpahan dan berkecukupan di dalam hati dan di dalam pikiran.

Dan terakhir:
Tak peduli seberapa sedikit yang kamu miliki, kamu akan selalu punya sesuatu untuk dibagi. Itulah kebahagiaan. (Maman Suherman)
Share:

Sabtu, 20 Mei 2017

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 20 Mei 2017 (Sayang Anak - Sayang Anak)

Kang Maman – Sayang Anak - Sayang Anak

Dari tanya jawab ibu, bapak, anak, juga dengan Cak Lontong tadi, terbukti anak-anak itu cerdas, bahkan memberi banyak kejutan yang kita sendiri belum tentu bisa menjelaskannya.

Karena mereka cerdas—tersirat dari pemaparan Meisya saat anaknya menanyakan tentang kolom seks di formulir, dari Wendi tentang anaknya yang menanyakan soal anting yang dipakainya, atau dari pertanyaan Alika pada Cipan tentang Pak Ahok—izinkan anak belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Sebagai orang tua, kita jangan memainkan semua peran—seolah kita anggota tim SAR, dan anak selalu dalam situasi SOS dan butuh diselamatkan.

Anak ngeluh sedikit, sini ayah bantu. Anak telat sedikit mengerjakan sesuatu—seperti menutup rapat botol minuman, menyiapkan kotak makanan, memasang tali sepatu, memakai baju seragam, menyisir rambut, atau mengancingi baju—kita bergegas, sini ibu saja yang kerjain. Padahal bisa jadi bukan anak yang bermasalah. Tapi karena orang tua yang ribut dan terbelenggu oleh waktu.

Teringat ada satu jenis kecerdasan yang jauh lebih penting dari IQ untuk menghadapi masalah sehari-hari. Kalau demi anak kita siap menghabiskan waktu, perhatian, dan uang untuk IQ mereka, mari juga habiskan hal yang sama untuk AQ (Adversity Quotient), yang menurut Paul G. Stoltz, “Kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dalam kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.”

Bolehkan anak mengalami kesusahan, bahkan dengan sedikit luka, sedikit tangis, sedikit kecewa, sedikit telat, maupun sedikit kehujanan.

Tahan lidah, tangan, dan hati kita demi mengajarkan mereka cara menghadapi dan menangani frustrasinya sendiri. Tadi tersirat dari kalimat Kang Denny di segmen pertama:
Percayalah, permata baru bersinar cemerlang setelah melewati tekanan dan tahap pemolesan diri dengan sangat baik. [segmen 2]

***

Dalam soal keberagaman, mari sampaikan pada anak-anak kita:
Nak, mengapa lengkung pelangi begitu indah? Karena pelangi berwarna-warni.

Dan:
Nak, Allah menciptakan bumi dan seisinya, juga menciptakan manusia berkelir (berwarna-warni), dan mengasihi semua warna, dan tidak pernah membedakannya satu sama lain. [segmen 4]

***

Sedari awal, melihat anak-anak sahabat saya se… ini, saya jadi teringat putri saya yang sekarang sengaja mengambil cuti kuliah untuk kembali mondok dan menamatkan hafalan Al-Qur’an 30 juznya. (Salam dan doa saya untukmu, Nak)

Cara belajar laki-laki dan perempuan, harus diakui berbeda. Juga cara membesarkannya pun berbeda. Tetapi tidak ada satu yang lebih tinggi dari yang lain. Harus setara. Karena pada anak laki, agama mengajarkan kita untuk menjadikan mereka qawwam (pemimpin) keluarga yang penyayang dan bertanggung jawab. Sedang pada anak perempuan, kita ingin hasilkan sebuah sekolah kehidupan pertama untuk generasi mendatang. Dan hal ini bisa dilakukan, jika ada kerja sama yang baik antara ibu dan ayah.

Juga sedari awal kita diajarkan, ada keterkaitan antara al-haya (malu) dengan al-hayahal-hayah (hidup).

Jadi, sedari dini, mari ajarkan malu pada anak-anak kita, karena rasa malu adalah ciri manusia beriman. Apabila anak sudah dilindungi perisai malu dari rumah, insya Allah akan lebih selamat dari ancaman lingungan yang makin tidak tahu malu—tersirat dari penjelasan Ronal di segmen 3 tadi.
                                                                                     
Ibu dan ayah yang baik, semoga kita selalu diberi kemampuan bersyukur karena telah mendapatkan karunia berupa anak-anak, meski kerap mereka mencoba menguji kesabaran kita—seperti kata Kang Denny. Dan semoga kita semua dipermudah untuk memperbaiki diri, dan bisa menjadi sekolah jiwa paling pertama dan utama bagi anak-anak kita.

Terakhir:
Semoga anak-anak kita tidak ada seorang pun yang bercita-cita menjadi handphone. Karena kita lebih sering menyentuh dan menggenggam HP, daripada mengelus dan memeluk anak-anak kita. (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter