Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Sabtu, 23 Juli 2016

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 23 Juli 2016 (Rambutku Mahkotaku)

Kang Maman Rambutku Mahkotaku

Belajarlah dari tukang cukur. Meski diberi kebebasan memegang kepala, merawat mahkota orang lain, mereka tak pernah berniat untuk menguasai dan merebut mahkota itu. Sebaliknya, tetap berusaha semaksimal mungkin membuat orang lain makin cantik, makin ganteng, dan terpuaskan.

Dari tukang cukur kita belajar: kalau diberi amanah, tidak khianat. Dan karena bisa menjaga amanah, orang akan selalu datang dan datang lagi kepadanya untuk minta dirawat, dipotong, dirapikan, dan digayakan bentuk rambutnya.

Segaya apa pun potongan rambutmu, sebagus apa pun bentuk rambutmu, ingat satu pelajaran berharga yang sangat filosofis: Bahagia itu bukan memesona, tapi terpesona.

Terakhir, tema acara kita malam ini adalah “Rambutku Mahkotaku”. Ada pelajaran indah tentang mahkota:
“Jangan kelamaan mengenakan dan mengagung-agungkan mahkota di atas kepalamu karena bisa membuatmu tak bakal mampu dan mau lagi menunduk ke bawah; menjadi sangat angkuh karena selalu takut kalau menunduk ke bawah, mahkota akan jatuh menggelinding dan hilang.”

Jadi, lebih baik taruh mahkotamu di hatimu daripada di kepalamu. Karena bercukur itu baik, bersyukur jauh lebih baik. (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 12 Juli 2016

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 12 Juli 2016 (Jebakan di Balik Comfort Zone)

Kang Maman Jebakan di Balik Comfort Zone

Menarik, diskusi ini diawali Kang Denny dengan ilustrasi hiu yang dimasukkan ke dalam kolam ikan lain.

Berhati-hatilah dalam jebakan zona nyaman, karena kalau sekadar menyaman-nyamankan diri padahal hati sudah tidak bisa diajak kompromi, maka comfort zone semata-mata akan menjadi not moving zone (area tidak move on) karena kepasrahan bahkan keterpaksaan.

Kalaupun ingin bergerak menemukan kenyamanan lain, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. [1] Learning zone: belajar membuka lahan baru bermodalkan observasi, seleksi, menjadikan hal baru sebagai bagian diri, dan berani melakukan eksekusi. [2] Atau seperti diingatkan Cipan dan Ronal: “Kita malah masuk ke dalam suicidal zone.” Jika keluar dari zona nyaman tanpa persiapan, Anda akan masuk ke area bunuh diri massal. Tidak cuma diri sendiri, keluarga juga akan merasakan gagalnya. Di kondisi seperti ini, jangan takut untuk pulang. Toh, siapa saja yang pernah pergi, telah disediakan jalan kembali bernama jalan penyesalan. Dan kalau memang sudah sangat siap untuk keluar dari comfort zone, yakini diri—kata Komeng: di dunia ini tidak ada yang abadi. Ketika tubuh kehabisan tabah, kuburkan duka masa lalu, tak lagi guna merawat luka.

Siapkan 2A untuk raih 1A. [A1] Accept: terima dan hadapi dengan senang hati, lakukan adaptasi dengan cepat, cari solusi dan strategi, maka sukses pun akan diraih. Kondisi lebih baik akan dimiliki. [A2] Achieve: zona nyaman hari ini bisa berubah dan bisa diubah dari zona kenangan di kemudian hari dengan syarat: jangan pernah menjelek-jelekkan zona nyamanmu di masa lalu karena itu artinya kamu juga mengejek masa lalumu sendiri.

Bagi yang berumah tangga, harus diakui: Terkadang bertahan dalam sebuah hubungan bukan lagi karena cinta, tapi semata karena “aku tidak terbiasa tanpa dia.”

Namun juga ingat, move on bukan berarti harus meninggalkan. Tetaplah menunggalkan dengan keyakinan: Cobaan dariNya adalah caraNya menguji kita sebelum mendapatkan zona nyaman baru yang lebih baik.

Jadi, move on: selaraskan pikiran dan perasaan, dan teruslah saling menguatkan! (Maman Suherman)
Share:

Senin, 11 Juli 2016

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 11 Juli 2016 (Prestasi, Gengsi atau Frustrasi?)

Kang Maman Prestasi, Gengsi atau Frustrasi?

Seseorang disebut berhasil menaklukkan Gunung Everest bukan karena ia diturunkan dari pesawat terbang tepat di puncak gunung itu. Tetapi karena ia telah berjuang mendaki dari kaki gunung terbawah hingga berhasil mencapai puncak tertinggi di dunia itu. Artinya, tak ada prestasi yang bisa diraih secara instan (meski didukung oleh segunung dana), tetapi harus berproses dari titik nol.

Yang cukup menyedihkan di negeri ini, menjadi yang pertama dianggap bukan sebagai prestasi. Alhasil, orang seperti Rio Haryanto, orang Indonesia pertama yang berhasil masuk ajang F1—yang tak cuma sebatas bermodal dana atau pay driver, tapi juga sudah punya prestasi di level sebelumnya—tetap dianggap bukan sebagai prestasi. Meski, Cak Lontong mengingatkan, “Matangkan dulu prestasi di level sebelumnya sebelum naik di tingkat atau di level yang lebih tinggi.”

Yang kedua, di negeri ini dana memang selalu menjadi persoalan yang kerap tak kunjung ada ujungnya dan selalu diributkan tanpa ada habis-habisnya. Jadi bisa dibayangkan betapa rumitnya, di mana saat berupaya menuju puncak saja sudah tidak bisa difasilitasi, didanai atau diapresiasi, demikian pula kelak di masa selanjutnya—di masa sudah turun dari puncak dan menua, sungguh jauh lebih tidak diapresiasi lagi.

Siapa di antara kita yang masih mengingat Ellyas Pikal, orang Indonesia pertama yang menjadi juara dunia tinju profesional asal Indonesia? Atau Tati Sumirah, yang menjadi bagian dari tim bulu tangkis putri Indonesia pertama kali merebut Piala Uber tahun '75? Atau satu nama kecil lainnya, Nanda Telaumbanua; 10 rekor dunia, 7 kali juara dunia angkat besi, kita sudah lupakan. Dan masih banyak nama-nama besar lainnya yang sudah mengharumkan nama bangsa. Akibatnya satu: Prestasi bisa-bisa cuma berujung frustrasi.

Jadi, mari mengapresiasi sedari dini agar bisa meraih puncak prestasi dan tidak frustasi di hari tua.

Terakhir, dari pernyataan Cak Lontong:
Semua manusia pada dasarnya ingin dihargai, tetapi yang terpenting, tanyakan pada diri sendiri: Apa yang ingin kita dari prestasi itu sendiri?

Dan capaian yang sempurna adalah berpadunya 3-i. Berprestasi itu: untuk meraih apresiasi, memperoleh kepuasan diri, dan berharap rida Ilahi. (Maman Suherman)
Share:

Senin, 04 Juli 2016

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 4 Juli 2016 (Maaf di Jempol, Maaf di Hati)

Kang Maman Maaf di Jempol, Maaf di Hati

Imam Malik rahimahullah pernah menangis ketika hendak berbuka puasa. Saat ditanya oleh muridnya, “Kenapa guruku menangis?” Imam Malik menjawab, “Aku sedih melihat makanan yang banyak ini karena teringat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baginda Nabi berbuka dengan makanan yang sedikit tapi ibadah beliau sangat banyak. Sedangkan aku, berbuka dengan makanan yang banyak tapi ibadahku sangat sedikit.”

***

Dan hari ini baru saja aku terima selembar surat perpisahan yang isinya senada dengan yang disampaikan teman-teman tadi di ILK [Indonesia Lawak Klub]. Begini isinya; 

Saudaraku, aku akan pulang...
Sudah 29 hari bertamu, namun sering kali aku ditinggal sendirian.
Walau sering dikatakan istimewa, pembawa berkah, namun perlakuanmu sungguh tak luar biasa.
Oleh-olehku nyaris tak kausentuh, Al-Qur’an hanya dibaca sekilas, kalah dengan update status smartphone dan tontonanmu. 

Shalat tak lebih khusyuk, kalah bersaing dengan ingatan akan lebaran.
Tak banyak kauminta ampunan karena sibuk menumpuk harta demi THR dan belanjaan.

Malam dan siangmu tak banyak dipakai berbuat kebajikan, kalah dengan bisnis yang sedang panen saat Ramadhan.
Tak pula banyak kau bersedekah karena khawatir tak cukup buat mudik Ramadhan [lebaran].

Saudaraku...
Aku sungguh seperti tamu yang tak diharapkan.
Hingga sepertinya tak akan menyesal kautinggalkan,
bahkan kauharapkan segera pergi.
Padahal aku datang dengan kemuliaan, seharusnya tak pulang dengan kesia-siaan.

Percayalah...
Aku pulang belum tentu akan kembali datang
Sehingga seharusnya kau menyesal telah menelantarkanku.

Mungkin ada sehari lagi kita bersama
Semoga kau sadar sebelum aku benar-benar pulang.
Karena umurmu hanyalah cerita singkat yang kelak akan dipertanggungjawabkan dengan panjang.

Terakhir kupesankan:
Saling memaafkanlah satu sama lain. Karena memberi maaf merupakan ajaran Islam yang sangat mulia, termasuk kebaikan hati yang dapat menghindarkan diri dari permusuhan dan dendam yang tidak pernah padam. Ingatlah akan isi Qur’an surah Asy-Syuura [42] : 40, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan serupa, maka barang siapa memaafkan dengan baik maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Memaafkan adalah puncak kemuliaan hati orang yang disakiti dan orang yang dizalimi.

Dan jangan lupa cium tangan dan kaki kedua orang tuamu, minta maaflah dan minta ridho-nya.
Karena sabda Rasul, “Ridho Allah tergantung ridho orang tuamu.”
Dan jangan pernah lupa, doakan mereka jika mereka sudah berpulang.

Sekian surat dari saya.

Bumi Allah, hari ke-29 Ramadhan, 1437 H
Tertanda
Saudaramu yang sangat mencintaimu
Yang memberimu malam yang lebih baik dari 1.000 bulan

RAMADHAN

***

Rabbana, ya Allah
Pertemukan kembali kami dengan saudaraku yang mencintaiku dan yang sangat kucintai: Ramadhan-Mu, Ramadhan ya karim. (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter