Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Selasa, 15 Desember 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 14 Desember 2015 (Kerja Sendiri vs Kerja Tim)

Kang Maman Kerja Sendiri vs Kerja Tim

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Ia bisa berkarya seorang diri, sekaligus bisa berkarya bersama-sama.

Dan kita percaya, sebatang lidi tak akan sanggup meyapu halaman rumah. Tetapi jika berbatang-batang lidi terikat satu sama lain, membentuk sapu, saling isi saling melengkapi, halaman rumah pun dengan mudah bisa terbersihkan. 

Kita memang terlahir sendiri, tetapi saat berpulang, tak mungkin bisa mengubur diri sendiri. Namun, sendiri atau bersama-sama, teringat satu nasihat:

Manusia (atau perusahaan) yang paling mulia, tak harus berstatus ‘yang mulia’ di mata manusia. Apa gunanya dikenal di bumi, tapi tak dikenal di langit?

Tetapi individu (atau perusahaan) yang paling mulia, adalah yang bermanfaat bagi sesamanya dan bagi lingkungannya.

***

Selamat ulang tahun yang ke-14 Trans Media
Teruslah bertransformasi
Detik demi detik
Menit demi menit
Hari demi hari
Menjadi semakin lebih baik.

Satu dalam kebersamaan,
Bersama dalam satu tujuan
Tebar manfaat bagi masyarakat dan negeri tercinta
Dan
Semakin menjadi Inspirasi negeri
INDONESIA!!!!!

(Maman Suherman)
Share:

Selasa, 08 Desember 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 8 Desember 2015 (Pria Metroseksual vs Pria Macho)

Kang Maman Pria Metroseksual vs Pria Macho

Jantan anugerah, tampan juga karunia. Karenanya, menjaga kejantanan dan ketampanan adalah keharusan, sebagai tanda mensyukuri pemberian Tuhan. Bukan untuk disombongkan, karena apa yang bisa disombongkan oleh manusia, sementara kain kafan kita pun sedang dirajut dan bertambah detik demi detik hingga sempurna saat kematian tiba?

Karenanya, yang paling utama, jantan itu bukan yang bisa menaklukkan harimau, tapi yang mampu menaklukkan hawa nafsu. Tampan, bukan semata mampu menaklukkan kaum hawa, tapi yang mampu menaklukkan hawa nafsu. Dan jantan dan tampan, itu baru terasa jika ia mampu menahan amarah, pada saat sebenarnya ia boleh untuk marah.

Juga harus diingat:

Tampan dan jantan itu berdurasi, ada akhirnya. Hanya yang baik hati dan menyejukkan hati yang akan abadi dalam kenangan.

Dan buat yang tidak merasa tampan atau jantan:

Duniamu tidak akan mati jika kamu disebut tidak tampan atau tidak jantan. Tetapi, duniamu akan betul-betul mati jika kamu sibuk mencela dirimu sendiri.

Terakhir, buat perempuan:

Silakan, carilah pasangan yang jantan, tampan, hartawan, dermawan, atau gentleman. Tetapi di atas segalanya, carilah yang beriman! (Maman Suherman)
Share:

Senin, 07 Desember 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 7 Desember 2015 (Emoticon Mewakili Perasaan?)

Kang Maman Emoticon Mewakili Perasaan?

Dalam alur komunikasi yang memanfaatkan media internet, terutama pesan teks, sulit sekali melepaskan diri dari penggunaan emoticon atau emosikon dalam bahasa Indonesia (?). Karena kita dan lawan bicara tidak bisa saling menunjukkan dan memperhatikan mimik saat mengutarakan sesuatu. Emosikon pun kemudian disisipkan agar teks mengandung emosi. Namun, tahukan siapa yang pertama kali memperkenalkan emosikon?

Ada versi yang mengatakan, sudah sejak lama, sejak era Morse (tahun 1800-an). Namun Wall Street Journal, pernah memublikasikan bahwa orang pertama yang membuat emosikon sederhana adalah Scott Elliott Fahlman. Yang bermula ketika terjadi pemberitaan palsu tentang jatuhnya air raksa di sebuah Universitas Carnegie Mellon. Dari situlah, pada tanggal 19 September 1982, lahir dua emoticon yang sangat sederhana. Emosikon ‘:)’ yang menggambarkan berita itu cuma lelucon belaka, atau ‘:(’ kabar serius.

Dan kemudian, dari sanalah berkembang berbagai emoticon menjadi emoji. Sticker, yang dipopulerkan oleh aplikasi chatting LINE, juga berpangkal dari penemuan Fahlman tersebut.

Jadi, emosikon adalah icon yang menggambarkan suasana hati, yang ditampilkan dalam komunikasi online yang menjadi pembeda, apakah itu serius atau cuma bercanda. Tetapi yang jauh lebih penting, kata Ronal, apakah orang yang dituju (dikirimi) info plus emosikon itu punya pemahaman yang sama tentang icon itu.

Kunci komunikasi kan jelas: Penyampai dan penerima mesti berada dalam satu frekuensi dan pemahaman yang sama. Bayangkan, kalau tidak, akan terjadi mispersepsi atau miskomunikasi. Misalnya, saat serius dimaknai bercanda; saat sedih yang penuh uraian air mata, dimaknai tertawa bahagia sampai keluar air mata. Itu akan berakibat rusaknya jagat pergaulan dan silaturahmi.

Jadi, silaturahmi tatap muka jauh lebih bermakna dan diyakini lebih memperpanjang usia. Sementara emosikon, semata hanya ikon emosi, hanya ikon yang berupa benda mati tanpa hati. Jadi, jangan gara-gara emosikon, emosi semakin bertambah. (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 01 Desember 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 1 Desember 2015 (Ojek Online vs Ojek Pangkalan)

Kang Maman Ojek Online vs Ojek Pangkalan

Tadi ada yang membandingkan opang atau olin (ojek pangkalan atau ojek online), seperti perbandingan antara paguyuban dan patembayan. Tetapi pada dasarnya sama: melayani pelanggan dari satu titik tumpuan menuju ke satu titik tujuan. “Pemenangnya” adalah siapa yang mampu memberi pelayanan maksimal—kata Cak Lontong—yang memberi kepuasan kepada pelanggan.

Kepuasan pelanggan tercapai andaikan ada 4-AN:

Pertama, pelanggan mendapatkan kemudahAN. Kedua, sebagai raja, konsumen atau pelanggan harus mendapatkan keuntungAN. Dan penyedia jasa harus siap jadi “keset” atau “talenan” bila terjadi ketidakpuasan pelanggan, bukan malah dilawan dengan berjuta alasan. Ketiga, pelanggan butuh solusi, mendapatkan semaksimal mungkin bantuan dan kepastiAN. Dan nomor satu yang dibutuhkan, dua sisi dari satu mata uang adalah: kepercayaan dan kejujurAN.

Dua teman di samping saya mengatakan—dan membisikkan, ada dua hal yang sederhana tapi jangan dipandang enteng: senyuman tukang ojek dan tidak bau badan.

Terakhir, kepada penyedia jasa layanan opang atau olin, yang hebat itu yang bisa memecahkan “misteri” yang tidak mudah ini, yakni: produsen kerap bahkan selalu berpegang pada prinsip, “Kami tidak mungkin bisa memuaskan setiap orang.” Tetapi ingat, setiap orang akan selalu mengatakan, “Saya orang yang harus kamu puaskan.”

Dan di atas segalanya, opang atau olin, carilah rezeki yang halal, setelah menunaikan yang fardu. Maka kamu akan dicintai penghuni bumi dan penghuni langit, karena Tuhan tak membedakan pangkalan atau online. Dan tidak pernah salah alamat dalam mengirimkan dan mengantarkan rezeki-Nya; selalu tepat sampai kepada tujuan, dan tidak maju atau mundur sedetik pun. Itulah inti dari jasa pengantaran. (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter