Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Senin, 30 Maret 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 30 Maret 2015 (Pro Kontra 1 Triliun Parpol)

Kang Maman Pro Kontra 1 Triliun Parpol

Pendanaan Parpol dengan menggunakan anggaran negara bukan hal baru di muka bumi. Di Amerika Latin dan Eropa, terutama Jerman dan Skandinavia, itu sudah diterapkan. Masalahnya jika diterapkan di Indonesia, akankah itu menghentikan politik transaksional antara Parpol dengan pengusaha gelap, misalnya? Dan selama kita belum berani transparan, masih gelap-gelapan, maka penggelapan dana itu masih terbuka lebar. Itu yang pertama.

Yang kedua, yang tidak kalah pentingnya, selama Parpol dikelola seperti perusahaan pribadi, seperti milik keluarga, alangkah lucunya kalau negara ikut membiayai. Itu yang kedua.

Kemudian yang ketiga—satu lagi, selama aturan undang-undangnya belum dibenahi, jangan lagi misalnya ada wakil rakyat yang Pemilu dipilih oleh rakyat. Tapi kalau partai sudah tidak suka, lalu ada pergantian antar-waktu dan diganti oleh Parpol itu atau oleh pemilik Parpol itu, alangkah lucunya kalau orang-orang melihat pilihan rakyat yang sangat demokrasi fundamental diganti oleh pilihan pribadi.

Dan dalam hal yang terakhir tadi, Cak Lontong sudah memberikan kode. Dalam soal uang, kita mesti hati-hati. Karena, uang bisa membuat nurani terbUANG kalau kita tidak takwa. (Maman Suherman)
Share:

Sabtu, 28 Maret 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 23 Maret 2015 (Cara Cepat Menjadi Kaya)

Kang Maman Cara Cepat Menjadi Kaya

Seperti halnya jalan pintas di jalanan yang kita sebut jalan tikus, sekalinya lancar dia sangat lancar, tetapi sekalinya macet dia akan sangat macet sama sekali; maju tidak bisa, mundur tidak bisa karena saking sempitnya. Demikian pula tadi disimpulkan oleh teman-teman tentang ‘jalan pintas menjadi kaya’ karena dia bisa berubah menjadi jalan pintas menuju penjara. Itu poin yang pertama. Karenanya, mesti diresapi juga: Kaya tidak identik dengan bahagia. Jadi, untuk apa jalan pintas?

Jalan yang terbaik untuk bahagia adalah dengan tidak menjadikan uang sebagai tujuan, sebagai sesembahan, apalagi mempertuhankan uang. Dan orang kaya, bukan orang yang paling banyak hartanya, tapi yang paling sedikit keinginannya. Sementara orang miskin—tadi juga disimpulkan—bukan yang paling sedikit hartanya, tapi justru yang paling tidak pernah berhenti mengejar kekayaan.

Terakhir, saya mau tanya ke teman-teman ini karena kata kuncinya dari Cak Lontong. Apakah sering mendengar orang yang banyak uang, tapi juga banyak utang?

Banyak, banyak uang sekaligus banyak utang. Satu lagi kata kunci bahwa: Uang tidak identik dengan bahagia. (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 17 Maret 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 17 Maret 2015 (Bisnis Multi Level Marketing)

Kang Maman Bisnis MLM (Multi Level Marketing)

Ada beberapa catatan. “MLM,” kata Cak Lontong, “hanya salah satu alternatif sistem dalam berbisnis.” Kemudian ada beberapa titik yang dikritisi teman-teman di sini soal MLM. Yang pertama, soal etika. Dalam merekrut downline, kerap terkesan sangat memaksa dan melupakan etika. Itu poin pertama. Yang kedua, saking semangatnya merekrut downline, kadang-kadang rekrutnya emosional, tapi begitu sudah jalan jadi downline, tidak diberi dukungan. Itu yang suka bikin marah orang. Lalu yang ketiga, kadang-kadang orang ikut, tapi tidak cinta, tidak tahu dan tidak kenal produknya. Tidak lagi bisa membedakan ini MLM atau money game. Akibat dari ketiga itu kadang-kadang pertemanan dan kekeluargaan jadi hancur.

Direct selling MLM, bisnis dari mulut ke mulut dalam merekrut downline memang punya godaan mendasar. Ucapan yang terlontar lewat mulut selalu lebih cepat dari tindakan dan dari bukti tindakan. Sehingga Cak Lontong mengingatkan, “Hati-hati, yang masalah selalu oknumnya.”

Dan bagi yang mau ikut MLM, Kang Denny sudah mengingatkan, “Jangan mudah tergiur sama iming-iming super dahsyat karena tidak ada hujan uang.” Tetap harus butuh kerja keras dan kerja cerdas. Dan di balik semua itu, teringat kalimat Dalai Lama, “Dalam bisnis apa pun, tujuan manusia hidup adalah saling tolong menolong. Kalau tidak mampu menolong, jangan menyakiti, jangan menipu!” (Maman Suherman)
Share:

Senin, 16 Maret 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 16 Maret 2015 (Handphone-ku Hidupku)

Kang Maman Handphone-ku Hidupku

Seorang pengamat spiritual bilang seperti ini, dan disinggung dengan bagus oleh Fitri Tropica tadi, “Tanpa disadari, gadget yang memancarkan radiasi elektromagnetik di rumah kita, akan menyedot semua prana (energi kehidupan) kita.” Dan kalau kita terlalu banyak berhubungan dengan benda-benda yang membawa energi elektromagnetik tersebut, maka energi keilahian dalam diri kita akan habis. Makanya orang-orang jadi mudah marah, mudah jahat, dan energi negatifnya akan keluar. Jagung saja bisa meledak menjadi popcorn. Itu poin yang pertama.

Jadi, lepaskan diri dari kecanduan gadget. Kata Elly Risman, seorang psikolog, yang tadi dikutip oleh Cak Lontong dengan tepat, “Hanya orang yang punya self control (pengendalian diri), akan bisa mengatur diri untuk menggunakan gadget seperlunya saja.”

Jadi, diet gadget adalah satu keharusan karena apa pun, kata Cak Lontong lagi, “Meski gadget berembel-embel kata ‘smart’, tetap dia tidak punya hati dan tetap benda mati.” Jika kehidupan selalu tergantung pada benda mati, hatimu pun—cepat atau lambat—akan mati.

Poin terakhir, dari semua teman-teman tadi: Daripada tergantung gila-gilaan pada telepon di genggaman, lebih baik genggam tangan dan hati orang tersayang, dan lebih baik tengadahkan tangan dan bergantung hanya kepada Tuhan. Daripada kehilangan Tuhan, lebih baik kehilangan handphone. (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter