Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Rabu, 11 Maret 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 10 Maret 2015 (Rock 90's Bukan untuk Dikenang)

Kang Maman Rock 90's Bukan untuk Dikenang

Rock adalah produk dialog antar-budaya. Musik kaum putih antara Amerika, berpadu dengan musik Afro-Amerika, dan ditambah dengan musik pengiring tarian rakyat Irlandia yang sangat melodius. Dan asal kita ketahui saja bahwa di tahun 1950-an, di Eropa (khususnya di Belanda), dikenal istilah ‘Indorock’ (Indonesia rock). Dan itu, yang membawakannya adalah Tielman Brothers; empat orang bersaudara: Andy [Tielman], Reggy [Tielman], Ponthon [Tielman], dan Loulou [Tielman], yang ayahnya Herman Tielman adalah orang Kupang dari Indonesia. Dan dia dianggap grup rock yang jauh lebih dahulu dibanding The Beatles sekalipun.

Dan Andy [Tielman], adalah orang pertama yang memainkan gitar dengan menggunakan gigi, dengan memainkan gitar di belakang kepala atau di belakang badan, jauh sebelum Jimmy Hendrix, Jimmy Page, dan Ritchie Blackmore. Jadi, rock bukan barang asing di Indonesia. Jika dibuka ruang dialog, rock akan kembali jaya di Indonesia.

Keberagaman itu indah, selera beragam itu indah, jangan paksakan untuk seragam jika kita masih ingin melihat indahnya pelangi; warna-warni pelangi musik Indonesia. Jadi, let’s rock, teruslah menggelinding! (Maman Suherman)
Share:

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 9 Maret 2015 (Madu Racun Sepak Bola Indonesia)

Kang Maman Madu Racun Sepak Bola Indonesia

Ada 2 kunci yang digaungkan dan diagungkan betul dalam dunia sport, yang tadi diungkap sejak segmen awal: Sportivitas dan Fair Play. Dua kunci ini seharusnya tidak cuma ada di dalam diri pemain, tetapi juga penonton, dan tak boleh kalah pentingnya adalah tangan pengurus. Pengurus harus sportif dalam menjalankan, menaati, dan menegakkan peraturan. Itu kata kunci yang pertama. Dan kita yakin, PSSI semestinya bisa, BOPI bisa, Kemenpora bisa. Itu yang pertama.

Yang kedua, jika pemain nasional kita bertanding dengan meneriakkan ‘GARUDA DI DADA’, semestinya itu juga berlaku buat para pengurus, ‘GARUDA DI DADA’. Bukan cuma memikirkan lembar-lembar gambar pahlawan di saku baju.

Jadi, pengurus pun harus jujur dan taat aturan sejak masih dalam pikiran. Karena kami, rakyat Indonesia, rindu sepak bola negeri ini berprestasi tinggi, tidak cuma mendengar mereka berkelahi. Dan yang terakhir, terbang tinggilah garudaku! (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 03 Maret 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 3 Maret 2015 (Awas, Makanan Berbahaya!)

Kang Maman Awas, Makanan Berbahaya!

Ada 2 poin pembicaraan hari ini. Kamu adalah apa yang kamu konsumsi. Jadi, hati-hati dengan apa yang kamu konsumsi karena bisa membuatmu tinggal nama. Kenali ciri-ciri produk yang berbahaya—tadi sudah dipaparkan Okky Lukman dan juga dr. Reisa Broto Asmoro. Misalnya, tempe atau pisang yang digoreng jika menggunakan minyak campur plastik, diuji dengan korek api saja dia bisa terbakar; kalau tidak, dia akan langsung gosong. Atau menggunakan kertas berkunyit untuk menentukan makanan yang kita hadapi itu mengandung boraks atau formalin, atau tidak sama sekali. Juga, ingat filosofi yang diucapkan Cak Lontong, “Makanan yang nikmat terkadang memiliki efek mematikan daripada sayur-sayuran yang kurang enak.” Itu yang pertama.

Yang kedua, makanan oplosan seperti bakso sapi oplosan celeng, saus sambal dioplos bahan kimia kosmetik atau menggunakan boraks dan formalin, kulit sapi busuk untuk kikil, apel berbakteri, juga minuman keras oplosan, telah banyak merenggut nyawa orang. Dan buat pembuatnya, ingat, Anda menciptakan petaka, Anda juga akan terkena petaka. Undang-Undang Nomor 8 [Tahun] '99 tentang Perlindungan Konsumen, Anda diancam hukuman 5 tahun penjara, atau Rp2.000.000.000,00 denda. Dan, Pasal 100 dan 144 Undang-Undang [Nomor] 18 [Tahun] 2012 tentang Undang-Undang Pangan, pidana 3 tahun, atau denda maksimal 6.000.000.000,00.

Jadi, sekali lagi, you are what you eat. Dan, siapa yang menyalakan lampu untuk orang, akan ikut mendapatkan terang; dan siapa yang mematikan lampu untuk orang lain, akan ikut merasakan gelapnya. (Maman Suherman)
Share:

Senin, 02 Maret 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 2 Maret 2015 (Impor Barang Bekas)

Kang Maman Impor Barang Bekas

Ada beberapa poin yang menarik. Negeri ini punya banyak peraturan baik, aturan-aturan yang baik, tapi penegakannya yang sangat buruk. Contoh yang paling jelas, SK Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 28 Tahun 1982, jelas-jelas berisi larangan impor pakaian bekas. Tapi 33 tahun kemudian, 2015, kita masih lihat banyak tempat penjualan barang-barang impor, dan kita tidak pernah meributkannya. Justru kita ribut ketika Menteri Perdagangan mengingatkan kembali aturan ini, dan melansir satu uji coba laboratorium yang membuktikan: Dalam satu gram pakaian bekas impor, ditemukan 216.000 koloni bakteri. Dan itu didapatkan pada celana impor yang diduga terkena bekas menstruasi. Jadi, sedemikian jelek kah industri garmen kita sehingga kita harus memakai produk impor?

Diingatkan oleh Okky dan Jarwo Kwat tadi, “Jangan jadikan negeri ini tempat pembuangan sampah dari luar negeri!” Itu poin pertama.

Poin yang kedua, Paris Hilton aja pakai tas rancangan orang Indonesia yang bermerek BAGTERIA, kok kita mau pakai baju bekas yang berisi koloni bakteri?

Tex Saverio, membuat baju yang dipakai dengan bangga oleh Kim Kardashian, Jennifer Lawrence, dan Lady Gaga, kok kita bangga menggunakan busana bekas dari luar negeri?

Dan ada “titipan” dari teman-teman saya di samping, “Barang bekas yang paling menyebalkan itu adalah mantan yang meminta kembali barang-barang yang sudah diberikannya, dan barang-barang itu adalah barang-barang bekas impor.” (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter