Kang Maman – Pengaruh Film Kartun
Pada tahun 1990-an saja, hingga saat merampungkan kelas 6 SD, anak
Amerika rata-rata sudah menonton 100.000 tindak kekerasan yang ditayangkan di
televisi—termasuk 8.000 pembunuhan, dan bukan cuma dari film kartun, tapi dari
semua jenis tayangan. Dan bukan tak mungkin, itu sudah juga terjadi di Indonesia saat ini.
Jadi, sedari dini, “Anak,” kata Ronal, “harus segera diajari diet TV
dengan ketat,” termasuk dalam memilih tayangan kartun sesuai usia, dan orang
tua tidak menjadikan televisi sebagai penggantinya—sebagai baby sitter. Karena
jika itu dilakukan, getar cemas dan getir perih—cepat atau lambat—akan
iringi kepergian anak-anak karena hal yang tak semestinya.
Pergi (dalam makna dewasa) sebelum waktunya, bertoleransi tinggi pada
kekerasan, sampai mencelakai diri sendiri dan berpulang untuk selamanya karena
meniru adegan dalam kartun itu. Karena anak-anak ada dalam proses mengimitasi
khayalan gerak.
Jadi, jangan biarkan karena tayangan TV—tak cuma kartun—anak-anak jadi genangan air mata penyesalan
karena kita telah lalai dan abai kepadanya.
Jika tak bisa jadi orang tua yang pandai, jadilah orang tua yang baik
pada anak-anak. Jangan pernah putus komunikasi tatap muka. Kata Gordon Ramsay
dalam Master Chef Junior, “Berkomunikasi dengan baik akan menjadikan anak dua
kali bertambah kuat. Sebaliknya, tanpa komunikasi akan menjadikan anak dua kali
lebih lemah.”
Uang, bisa digunakan untuk membangunkan anak kamar tidur yang mewah—lengkap dengan TV besar dan
gadget games beraneka rupa
. Tapi kamar terindah buat anak, adalah di
ruang hati orang tuanya dan di pangkuan kasih sayang ibunya.
Tetapi tidak ada kata terlambat bagi orang tua untuk memperbaiki
kesalahan. Ingat
quotes dari Doraemon,
“Berbuat kesalahan adalah kelemahan manusia,
tapi belajar dari kesalahan adalah
kekuatan.” Jadi, ingat juga kata-kata Katara dalam
Avatar The Legend of Aang, “Kau
harus berjanji tidak akan berhenti untuk peduli.”
Jadi, kepada orang tua, selalulah peduli pada anak-anakmu karena dia
lahir dan hadir dari cinta kasihmu, bukan brojol dari layar televisimu. (Maman
Suherman)