Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Rabu, 11 Februari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 11 Februari 2015 (Pendekar Lalu Lintas)

Kang Maman Pendekar Lalu Lintas

Teman-teman di sini kembali mengingatkan bahwa pembunuhan dan kematian di jalan raya itu nomor 3 terbanyak di Indonesia setelah jantung koroner dan tuberkulosis. Setiap hari ada 1.000 anak dan remaja tewas di jalanan, tapi kita masih saja selalu melanggar. Itu yang harus jadi peringatan.

Yang kedua, fenomena Ichiro, betul kata Ronal, adalah sentilan kepada aparat yang masih tidak konsisten dan tegas dalam menegakkan aturan. Jadi, jangan pernah membuat masyarakat terus-menerus resah kalau tidak ingin lahir vigilante-vigilante lain. Itu yang kedua.

Tapi di sisi lain, rakyat juga harus diingatkan bahwa tidak boleh main hakim sendiri. Tujuan baik tidak boleh menghalalkan segala cara.

Pahlawan itu peduli kepada sesama insan; preman arogan celakai sesama insan. Dan hidup, ibarat bepergian; kalau nggak ikut aturan, celaka di perjalanan. Buat apa melanggar dan nekat-nekat untuk cepat-cepat kalau malah cuma bikin is dead? (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 10 Februari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 10 Februari 2015 (Waktu Indonesia Bagian Timur)

Kang Maman Waktu Indonesia Bagian Timur

Di Fakfak, Papua Barat, ada filosofi ‘Tiga batu satu tungku’. Itu prinsip untuk menjaga keseimbangan hidup dan kebersamaan hidup; untuk menjaga keseimbangan dan harmoni antara adat, pemerintahan, dan agama.

Lalu di Makassar, kita kenal prinsip ‘Sipakatau’: Kita harus memandang manusia sebagai manusia seutuhnya, tanpa membedakan latar belakang. Dan ada prinsip ‘Pacce’. Pacce itu perasaan belas kasihan kepada orang yang menderita tanpa perlu melihat dari mana asal sukunya; kita sama rata, sama rasa.

Nah, tadi sudah disinggung: Kita mungkin dari timur, logat kita (cara kita bicara), kulit kita mungkin berbeda, tapi ada prinsip orang Ambon yang sangat menarik, dia bilangnya begini, “Parsis macang pohong sagu; tarbae di luar, tapi barsih di dalang.” Jadi, mungkin kami seperti pohon sagu; dari depan mungkin tampak kurang elok, hitam, berduri—mungkin menakutkan—tapi percayalah, hati kami putih dan suci seperi buah sagu.

Kemudian, dalam soal kebersamaan, mereka selalu bilang, “Sagu salempeng patah dua.” Kalau kita sudah bersaudara, kita bagi rata sama-sama; tidak ada perbedaan satu sama lain.

Jadi, dari Sabang sampai Merauke, dari barat sampai timur, dari Miangas sampai pulau Rote, dari utara sampai selatan, ada satu kalimat yang menarik dari Papua dan dari Ambon, “Ale rasa beta rasa, kita basudara.” Sama rasa, sama rata, saling suka, saling cinta dalam satu ikatan. Ale Indonesia, beta Indonesia, kita semua Indonesia pusaka. Ewako! (Maman Suherman)
Share:

Senin, 09 Februari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 9 Februari 2015 (Pengaruh Film Kartun)

Kang Maman Pengaruh Film Kartun

Pada tahun 1990-an saja, hingga saat merampungkan kelas 6 SD, anak Amerika rata-rata sudah menonton 100.000 tindak kekerasan yang ditayangkan di televisi—termasuk 8.000 pembunuhan, dan bukan cuma dari film kartun, tapi dari semua jenis tayangan. Dan bukan tak mungkin, itu sudah juga terjadi di Indonesia saat ini.

Jadi, sedari dini, “Anak,” kata Ronal, “harus segera diajari diet TV dengan ketat,” termasuk dalam memilih tayangan kartun sesuai usia, dan orang tua tidak menjadikan televisi sebagai penggantinya—sebagai baby sitter. Karena jika itu dilakukan, getar cemas dan getir perih—cepat atau lambat—akan iringi kepergian anak-anak karena hal yang tak semestinya.

Pergi (dalam makna dewasa) sebelum waktunya, bertoleransi tinggi pada kekerasan, sampai mencelakai diri sendiri dan berpulang untuk selamanya karena meniru adegan dalam kartun itu. Karena anak-anak ada dalam proses mengimitasi khayalan gerak.

Jadi, jangan biarkan karena tayangan TV—tak cuma kartun—anak-anak jadi genangan air mata penyesalan karena kita telah lalai dan abai kepadanya.

Jika tak bisa jadi orang tua yang pandai, jadilah orang tua yang baik pada anak-anak. Jangan pernah putus komunikasi tatap muka. Kata Gordon Ramsay dalam Master Chef Junior, “Berkomunikasi dengan baik akan menjadikan anak dua kali bertambah kuat. Sebaliknya, tanpa komunikasi akan menjadikan anak dua kali lebih lemah.”

Uang, bisa digunakan untuk membangunkan anak kamar tidur yang mewah—lengkap dengan TV besar dan gadget games beraneka rupa. Tapi kamar terindah buat anak, adalah di ruang hati orang tuanya dan di pangkuan kasih sayang ibunya.

Tetapi tidak ada kata terlambat bagi orang tua untuk memperbaiki kesalahan. Ingat quotes dari Doraemon, “Berbuat kesalahan adalah kelemahan manusia, tapi belajar dari kesalahan adalah kekuatan.” Jadi, ingat juga kata-kata Katara dalam Avatar The Legend of Aang, “Kau harus berjanji tidak akan berhenti untuk peduli.”

Jadi, kepada orang tua, selalulah peduli pada anak-anakmu karena dia lahir dan hadir dari cinta kasihmu, bukan brojol dari layar televisimu. (Maman Suherman)
Share:

Jumat, 06 Februari 2015

NoTulen ILK (Idonesia Lawak Klub) 6 Februari 2015 (Kencan Buta)

Kang Maman Kencan Buta

Kencan buta bisa terjadi di mana-mana. Di Korea Selatan sekarang sedang ngetren, sampai-sampai ada 2.500 perusahaan yang melayani jasa kencan buta. Dan survei di sana membuktikan, pasangan kencan buta butuh waktu rata-rata 10,2 bulan untuk pacaran, dan rata-rata 62 kali kencan per pasangan baru bisa menikah.

Apa pun bentuk kencan yang dipilih—termasuk kencan buta—Fitri Tropica dan Mas Qomar mengingatkan, “Jangan memutuskannya dengan gelap dan buta mata, apalagi buta hati.” Buka mata, buka telinga, dan yang utama: buka mata hati jika tak ingin patah hati dan sakit hati di kemudian hari.

“Hati penuntun meraih cinta. Luruskan dan tuluskan niat di hati,” kata Pak Qomar—karena cinta lebih bisa dirasakan oleh hati ketimbang indra penglihatan.”

Dan dalam memilih istri, Rasul mengingatkan, “Jangan semata karena cantik karena bisa membinasakan; jangan semata karena harta karena bisa mendurhakakan; tapi nikahlah karena kesalehannya.”

Dan dalam pilih suami, Rasul menitipkan 3 pesan: [1] Harus laki-laki yang penuh tanggung jawab, [2] Amanah, [3] Bertakwa kepada Allah. Di dalam Qur’an, surah At-Tahrim dikatakan: “Sebagai sosok yang bisa memelihara anak dan istri dari api neraka, dan berilmu pengetahuan karena ia bertanggung jawab untuk mendidik anak dan istri.”

Terakhir, kencan buta berawal tak kenal, bersua agar saling kenal, berjodoh bukan mustahil, tapi jangan lupa moral. Insya Allah, tulus berbalas ikhlas, curang berbalas culas. (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter