Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Kamis, 05 Februari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 5 Februari 2015 (Indonesia Lawak Kitchen)

Kang Maman Indonesia Lawak Kitchen

Di dalam dunia seni kuliner, khususnya di dalam dunia chef, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan; mereka setara; laki-laki perempuan sama perannya dan sama peluangnya. Itu yang pertama.

Yang kedua, belajarlah dari para chef. Kalau kita lihat tadi Chef Vania dan Chef Norman, mereka mengolah masakan dengan penuh cinta dan menghidangkannya dengan penuh kasih untuk orang lain. Karena menyenangkan orang lain, itu berarti membahagiakan diri sendiri.

Dan yang terakhir, di dalam kata ‘(me)masak’ ada kata ‘asa’, dan juga ada kata ‘emas’. Jika kita selalu menyalakan asa (harapan) untuk membahagiakan orang lain, kita akan mendapatkan emas kehidupan: Kebahagian buat diri dan kebahagiaan buat lingkungan kita. (Maman Suherman)
Share:

Rabu, 04 Februari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 4 Februari 2015 (Ujian Nasional Dihapuskan??)

Kang Maman Ujian Nasional Dihapuskan?

Ujian Nasional tetap ada, tapi bukan sebagai penentu kelulusan. Ujian Nasional itu berfungsi 3 saat ini: Pemetaan pendidikan nasional; diagnosis kemampuan siswa; dan yang ketiga, dasar penerimaan anak untuk tingkatan berikutnya.

Kita coba bedah apa yang diucapkan teman-teman tadi. Pendidikan yang utama itu adalah di rumah, dengan orang tua sebagai role model. Dan pendidikan pelengkapnya adalah di sekolah, dengan guru sebagai role model.

Belajar itu untuk paham supaya kita punya bekal belajar untuk di tingkat yang lebih tinggi. Bukan untuk sekadar lulus UN, melainkan seperti kata Ryn, “Bekal untuk lulus ujian kehidupan lainnya,” ujian kehidupan yang selanjutnya.

Ada satu kalimat yang menarik dari Allan Bloom, dia mengatakan, “Education is movement from darkness to light.” Ini sejalan dengan arti guru dalam bahasa Sanskerta, yaitu: Seseorang yang membawa kita dari kegelapan menuju terang.

Jadi kalau karena UN membuat siswa merasa cemas, merasa takut, apalagi kemudian secara sporadis melakukan curang bersama dengan mencari jawaban, membeli jawaban soal, lalu di mana cahaya terang itu?

Jadi, kembali lagi ke satu titik bahwa pendidikan tujuannya satu: Dari tidak paham menjadi paham; membawa orang dari kegelapan, bukan menuju ke gulita, tapi ke cahaya yang terang benderang. (Maman Suherman)
Share:

Selasa, 03 Februari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 3 Februari 2015 (Pasar Malam)

Kang Maman Pasar Malam

Yang pertama, kita soroti dulu penculikan. Penculikan nggak bisa ditoleransi, jelas kejahatan. Dan itu bisa jadi titik masuk untuk kejahatan yang lebih besar. Human trafficking, misalnya, perdagangan manusia, terorisme, itu dasarnya penculikan. Tapi kita juga harus sadar bahwa kadang-kadang penculikan, titik masuknya adalah ulah kita sendiri, ulah orang tuanya. Misalnya, memamerkan foto anak di Twitter, di sosial media; sekolahnya, alamatnya, kekayaan kita, kita pamerkan—hal-hal yang detail kita pamerkan. Itu bisa jadi potensi buat orang menculik anak. Dia datang ke sekolah anak kita, mengaku temannya bapaknya, dan anak percaya karena detail tentang bapaknya dia ketahui dari internet. Jadi, hati-hati, jangan ciptakan itu. Itu yang pertama.

Yang kedua, coba kita balik. Sadar nggak kita bahwa kadang-kadang yang justru lebih merasa sering diculik orang tuanya itu anak. Mau tidur, orang tua belum pulang. Begitu bangun, orang tua masih tidur atau sudah pergi kerja. Jadi, beri kesempatan sesedikit apa pun untuk mencium kening anak, untuk bersama-sama ngobrol di saat sarapan, dan membawa bekal buat anak ke sekolah daripada anak makan makanan yang belum tentu sehat.

Dan yang terakhir, beri waktu sedikit untuk berlibur kepada anak. Tidak harus besar, tidak harus mahal, tidak harus jauh karena esensi berlibur 'kan satu: Mengistirahatkan kepala dari urusan dunia, dan mendekatkan hati kepada orang yang tercinta. Jadi, bisa di pasar malam ini yang gratis, atau ke Trans Studio yang ada tiketnya, terserah, yang penting kita berlibur. Dan bukan urusan kaya miskin atau besar kecil karena: Lingkaran walaupun kecil kalau dia utuh, sudutnya 360 derajat. Tapi lingkaran kalau besar, tetapi tidak utuh, dia tetap tidak 360 derajat. Untuk membuatnya 360 derajat, kata kuncinya cuma satu: Bersyukur dan cinta kepada keluarga. (Maman Suherman)
Share:

Senin, 02 Februari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 2 Februari 2015 (Penggemar Rahasia)

Kang Maman Penggemar Rahasia

Pengagum rahasia, pada dasarnya tak ingin identitasnya diketahui. Ia mengagumi, lalu sukanya mengintai, stalking orang yang dikagumi dan super kepo, atau penuh tanya ala Kangen Band: “Yolanda, kamu di mana? Dengan siapa? Dan, sekarang berbuat apa?” Tapi ia tak berani ungkapkan langsung perasaan-perasaannya seraya menampilkan diri. Dia bukan pengecut, semata karena hanya ingin mengagumi tanpa obsesi untuk memiliki sosok yang dimiliki.

Ada sisi positif yang bisa dipelajari dari si “pengagum rahasia” (secret admirer): dia tidak riya kepada sosok yang dikaguminya. Yang pertama, belajarlah pada secret admirer, jadilah sosok yang hanya memuji, tak harap balas budi, juga tak harap dipuja-puji.

Tersirat dari pernyataan Fitrop [Fitri Tropica], yang kedua, daripada semata jadi secret admirer kepada sesama insan, jadilah pengagum rahasia Tuhan karena Dia-lah yang paling sanggup menolong kita, disebabkan tangan-tangan kasih-Nya jauh lebih besar dari semua masalahmu.

Dan yang terakhir, biarlah ibadahmu menjadi rahasiamu, sebagaimana kamu merahasiakan dosa-dosamu! (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter