Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Selasa, 09 September 2014

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 9 September 2014 (Hari Olahraga Nasional)

Kang Maman – Hari Olahraga Nasional

Olahraga mengajarkan kita hal-hal baik: Fair play, kejujuran, sportivitas, siap menang, dan siap kalah secara terhormat.

Berkaitan dengan olahraga prestasi, kita punya sejarah emas olimpiade dari bulu tangkis. Tapi yang menyedihkan, sejak orde reformasi '98, kita tidak pernah lagi menjadi juara umum Sea Games kecuali saat jadi tuan rumah. Dan tradisi emas olimpiade, berakhir di tahun 2008. Beruntung setelah 2001, Angelique Wijaya menjadi juara tenis Junior Wimbledon. Baru saja (2014) di ganda putri, Tami Grende berpasangan dengan atlet Cina, kita menjadi juara ganda putri Wimbledon Junior.

Karenanya, untuk para pengurus, ingat kata Ronal dan Taufik Hidayat, “Bicara prestasi, benahi organisasi, perbaiki nasib atlet!” Dan buat seluruh atlet Indonesia, kami bersama Anda, tetaplah menjadi garuda-garuda perkasa yang terus terbang tinggi untuk meraih prestasi tertinggi.

Kami masih ingin menangis dengan terharu dan penuh bangga, menyaksikan Merah Putih berkibar di tiang tertinggi, dan bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya seperti ketika Alan, Susi, Ricky, Rexy, Tony Gunawan, Candra Wijaya, Hendra Setiawan, Markis Kido, dan Taufik Hidayat meraih emas olimpiade. AYO, GARUDA DI DADAKU! (Maman Suherman)
Share:

Senin, 08 September 2014

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 8 September 2014 (Inspirasi di Balik Lagu)

Kang Maman Inspirasi di Balik Lagu

Untuk menyempurnakan 5 lagu tadi, mari simak 5 lagu lagi: Camelia 1 sampai Camelia 4 dari Ebiet G. Ade yang ditutup dengan lagu Untuk Sebuah Nama. Maka, kita akan dapatkan runtunan cerita seperti ini:

Di Camelia 1, Ebiet mengatakan, “Camelia selalu hadir dalam mimpiku.” Tapi di Camelia 2, Ebiet ingatkan, “Tak perlu kau berlari mengejar mimpi yang tak pasti.” Kenapa? Karena di Camelia 3 terungkap, “Camelia telah pergi.” Dan karenanya, Ebiet pun bertutur, “Kusimpan gambarmu dekat dengan tidurku dan mimpimu.” Ke mana Camelia? Ebiet menggambarkannya dengan penuh kesedihan, “Batu hitam di atas tanah merah, di sini akan kutumpahkan rindu, kugenggam lalu kutaburkan kembang, berlutut dan berdoa, syurgalah di tanganmu, Tuhanlah di sisimu, kematian hanyalah tidur panjang, maka mimpi indahlah engkau, Camelia.” Dan lagu Untuk Sebuah Nama menguncinya, “Kata orang cinta memang mesti berkorban, sebab cinta bukan mesti bersatu, jadi biar kucumbui bayanganmu dan kusandarkan harapanku.”

Lagu ini Ebiet banget dan hanya Ebiet yang tahu Camelia itu khayalan atau nyata. Tapi bagi orang yang mendengarnya dengan penuh dan pernah merasakan lara ditinggal cinta, pasti akan merasa terwakili dan bilang, “Gue banget. Sakitnya itu di sini, di dada.”

Nama, fakta, atau fiksi adalah perjalanan hidup dan lagu. Dan lagu, adalah sebuah catatan sejarah yang bernada, berirama, berjiwa, yang tertuang dari jiwa, dan tertanam dalam jiwa.

Jadi, lagu adalah prasasti tentang cinta dan kehidupan. (Maman Suherman)
Share:

Jumat, 05 September 2014

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 5 September 2014 (Tulus atau Modus)

Kang Maman Tulus atau Modus

Mari sama-sama kita ingat ini satu menit saja ....

Sosok yang tahu 85% persalinan akan alami robekan jalan lahir, pendarahan. 228 ibu meninggal setiap 100.000 persalinan. Tapi, dia tetap berjuang melahirkanmu tanpa pernah meminta kepadamu untuk mengembalikan tubuhnya seperti semula; tak pernah menuntut setetes darah pun yang tumpah saat melahirkanmu untuk diganti olehmu. Juga, sosok lelaki bernama ayah, yang sampai terbungkuk menanggung beban di pundaknya untuk menghidupimu, tapi tak pernah meminta tulangnya diluruskan kembali.

Mungkin sosok-sosok itu masih ada dan terpisah dari rumah, atau mungkin dia sudah berpulang, tapi tak pernah pergi dari hati.

Juga, pernah nggak mengingat teman seperjalanan dalam hidup; teman sekerja yang tidak pernah membiarkanmu sulit sendiri; rela membantumu [dan] berada di sisimu di saat yang baik, juga di saat yang buruk; orang yang bersikap for good times and bad times, i’ll be on your side forever more?

Mengapa kita tak bisa melupakan mereka itu? Karena mereka tulus. Tulus adalah bahasa hati yang selalu membekas di hati.

Dari pembicaraan kita bisa dapatkan:

Modus itu bahasa lidah; mudah dilepeh. Tulus itu bahasa kalbu; selalu dirindu. Modus itu menengadahkan tangan, tetapi tulus itu mengulurkan tangan. (Maman Suherman)

***

“Dalam kata modus itu tidak ada yang namanya rasa tulus. Dalam kata modus hanya ada rasa rakus. Segala sesuatu yang dilakukan dengan tulus akan membuat jiwa kita semakin halus, dan membuat hidup kita berjalan dengan mulus.” Kang Denny (Denny Chandra)
Share:

Kamis, 04 September 2014

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 4 September 2014 (Hari Pelanggan Nasional)

Kang Maman Hari Pelanggan Nasional

Suatu waktu, datang pengemis ke satu toko di Jepang, masuk ke toko mewah itu untuk membeli manju (itu kue kacang hijau dan berisi selai). Pelayan terkejut dan berusaha untuk segera membungkus pesanan supaya orang-orang kaya yang beli di situ tidak malu untuk untuk membeli di tempat itu dan tidak takut gengsi. Dia takut tokonya jatuh gengsi karena yang membeli pengemis. Tiba-tiba pemilik toko itu datang dan langsung mengatakan, ”Biar saya yang menyerahkan.” Ketika diserahkan, dengan sangat hormat dan dibayar, sang pemilik toko malah memberikan kehormatan yang sangat tinggi dengan membungkuk sedalam-dalamnya—khas orang Jepang.

Ketika pengemis itu pergi, pelayan bertanya, “Kok, Tuan menyerahkan sendiri, padahal tidak pernah terjadi?” Sang pemilik mengatakan, “Kita mesti bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan yang istimewa.” “Kok istimewa?” “Ya, karena hampir semua yang datang ke sini orang kaya, yang sudah biasa membeli kue dan tidak perlu mengeluarkan usaha untuk mendapatkannya. Sementara orang tadi, pasti sangat suka dengan kue kita dan berjuang untuk mendapatkannya dengan cara menabung. Dia adalah pembeli istimewa, dan dia telah menjadikan toko kita istimewa.”

Konosuke Matsushita, pemilik Matsushita Electric yang terkemuka itu menutup cerita tadi dengan satu renungan:

“Setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukan ditentukan oleh prestise pribadinya, atau besarnya pesanan yang dilakukan.”

Jadi, pesan moral yang kita titipkan di Harpelnas [Hari Pelanggan Nasional] ini:

“Seorang usahawan sejati harus jujur, dan dengan suka cita melayani dengan hati.” (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter