Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Sabtu, 31 Oktober 2015

3110

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un
Selamat jalan, Pak Raden
Terima kasih telah menghibur masa kecil kami
Terima kasih atas masa kecil yang menyenangkan
Kami generasi 90-an tak akan melupakan jasa & karyamu
Selamat jalan, Pak :'(

#RIP (1932 2015)



Share:

Jumat, 30 Oktober 2015

3010

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un
berpulang sudah ibu itu
penjual mi-sop-langgananku
tadi pagi kudengar kabar itu dari ibuku

awalnya aku ragu
lalu kuputuskan untuk keluar dari pintu
melihat sekitar rumahku
benar ternyata kabar itu!
dan rasa itu: haru
merasuk dalam kalbu

takkan ada lagi rasa mie kesayanganku
yang seperti dulu
rasa lezat itu kini berganti pilu
menyadarkan diriku
akan perkataan itu:
“Tiap-tiap yang bernyawa PASTI akan merasakan mati,”
kata Tuhanku—dari dahulu

Maaf, Tuhan, kami begitu lalai—abai
Dalam sedih doa itu kuuntai:
Terimalah dia di sisi-Mu
tempatkanlah ia di tempat yang mulia
bersama orang-orang saleh yang Engkau cintai dan ridai
aamiin...

Selamat jalan, ibu penjual mi-sop-favoritku
kelak, kami akan menyusulmu
tak tahu kapan, tapi PASTI
kami akan menyusulmu
ya, akan menyusulmu :'(

#RIP
Share:

Selasa, 27 Oktober 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 27 Oktober 2015 (2nd Anniversary)

Kang Maman 2nd Anniversary [NDONESIA LAWAK KLUB]

Indonesia Lawak Klub hadir untuk berbagi tawa. Mengajak tertawa dan tetap terjaga di tengah sumpeknya kehidupan. Di tengah rutinitas kehidupan yang terkadang memabukkan, tak jarang melenakan.

Indonesia Lawak Klub ibarat mata air; ibarat oase di tengah padang tandus, di mana para musafir, para pejalan kaki, bisa berhenti sejenak untuk duduk melepaskan haus dahaga dan penat diri. Jika kembali terjaga, para musafir pun bisa kembali berjalan dengan riang dan senang.

Selama dua tahun, Indonesia Lawak Klub hadir di atas semua golongan; tidak membedakan suku, agama, ras, golongan atau kepartaian pemirsanya. Karena Indonesia Lawak Klub, ingin ikut merayakan keberagaman—ingin ikut merawat keberagaman. Dan kami percaya: tidak bineka, bukan Indonesia.

Dan tidak mudah berada dalam posisi seperti itu. Kami ibarat berjalan di atas tali yang tidak kuat—tali yang bergoyang. Kami harus terus menjaga keberimbangan jika tidak ingin terpuruk ke kiri atau teperosok ke kanan. Dan yang membuat kami tetap seimbang adalah pemirsa, Anda semua, yang selama ini telah menjadi kawan kami; telah terus memuji kami sekaligus mengkritik kami, untuk kebersamaan dan kelanjutan Indonesia Lawak Klub.

Terima kasih, pemirsa, telah setia bersama kami selama dua tahun ini, sejak 27 Oktober 2013.

Harapan kami, pemirsa terus setia bersama kami—entah hingga sampai kapan. Melangkah bersama, merawat keberagaman, dan terus mewarnai negeri tercinta Indonesia, di sini, di Indonesia Lawak Klub! (Maman Suherman)
Share:

Senin, 26 Oktober 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 26 Oktober 2015 (Potensi Anak Bangsa)

Kang Maman Potensi Anak Bangsa

Seorang teman pernah bertutur dengan nada geram, dengan bibir bergetar, dan sedih bercampur marah, “Negara ini sudah gawat darurat dalam berbahasa Indonesia! Ayo kita bikin hashtag: #SelamatkanBahasaIndonesia!”

Orang tua begitu bangga di tempat-tempat umum mengajak anak-cucunya berbahasa asing daripada berbahasa Indonesia. Seolah sedari dini balitanya sudah disiapkan untuk tidak boleh kalah di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), dan tidak percaya bahwa berbahasa Indonesia bisa menjadi modal besar dan berharga bagi masa depan anak-cucu mereka.

Tidakkah pernah mereka sedikit saja bertanya: Mengapa Perancis, Jepang, begitu maju dan tetap bangga dengan bahasanya—dan dengan budayanya?

Bahkan mantan Mendikbud, M. Nuh, pernah bertanya dengan sangat prihatin, bahwa di lembaga pendidikan lama, di kurikulum lama, pelajaran bahasa Indonesia bahkan cuma dua jam, dan pelajaran bahasa Inggris empat jam.

Rupanya peribahasa ‘rumput tetangga lebih hijau daripada rumput halaman sendiri’ masih sedemikian berlaku di negeri ini. Bahkan masih menjadi-jadi dan menyedihkan, karena “gajah” di dalam negeri yang begitu berpotensi tidak tampak, sementara “semut” kecil di seberang lautan terlihat terang benderang.

Di sisi lain, kita semua percaya, bergantung pada orang lain tidak lebih baik daripada menggantungkan diri pada potensi sendiri. Dan, terlalu terpesona pada hal asing, bisa membuat seseorang terasing di negeri sendiri dan asing pada potensi negeri sendiri.

Kepada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu di eksekutif dan legislatif, Kang Ronal, Cak Lontong, dengan satire menyindir, apakah kita harus melengkapi Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar yang berbunyi, “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara,” ditambah dengan kalimat: “Kaya prestasi dan anak berpotensi dipelihara oleh negara”?

Dan terakhir, mari kita memilih: Mau terus takluk pada asing, atau menjadi singa dunia? (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter