Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Minggu, 04 Januari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 5 Januari 2015 (Me-Time)

Kang Maman Me-Time

Mudah lelah, padahal pekerjaan tidak seberapa. Mudah marah, padahal tidak ada sumber pencetus yang signifikan. Acap terdiam karena otak mendadak blank. Nggak tahu mau ngapain, padahal urusan begitu banyak. Atau, tiba-tiba mellow tanpa mengetahui penyebabnya. Pola makan berubah, sulit konsentrasi, dari nempel-molor menjadi insomnia. Itulah tandanya untuk ‘me-time’. “Alone, bukan lonely,” kata Pak Jarwo; Menyendiri, bukan kesepian. Menikmati beberapa saat untuk berdialog dengan diri sendiri.

Di dalam ‘me-time’, ada kata ‘met, ‘i’, dan ‘me’: I met me (aku bertemu saya). Aku menemui diri sendiri yang kerap kita lupakan karena kita sibuk melayani orang lain.

Me-time adalah cara adil memperlakukan diri sendiri. Dan me-time menjadi penting, persis seperti pantun Pak Jarwo Kwat tadi:

“Dalam diam aku bertemu damai
Dalam sunyi aku bertemu khusyuk
Dan dalam sendiri, aku bersahabat dengan diriku.”

Bila bersama orang lain ibarat berada dalam terang, perlu waktu menyendiri dalam gelap. Karena di saat gelaplah kita bisa melihat indahnya kerlip bintang.

“Dalam keluarga,” kata Cipan [Cici Panda], “me-time penting jika mampu membuat our time (aku dan kamu) semakin intim.” (Maman Suherman)
Share:

Sabtu, 03 Januari 2015

STOP KEMUNAFIKAN!

“Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang-orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan.”

“Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.”

“Saya bermimpi tentang sebuah dunia; di mana tokoh agama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata, STOP KEMUNAFIKAN! Stop semua pembunuhan atas nama apa pun!’.

“Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan membangun dunia yang lebih baik.”

SOE HOK GIE (17 Desember 1942 - 16 Desember 1969)

Pahami itu!

Jangan hanya berkoar-koar melalui status-status palsumu di dunia maya, namun yang engkau laksanakan 0 (NOL) BESAR!

STOP KEMUNAFIKAN!
STOP KEBOHONGAN-KEBOHONGANMU SELAMA INI!
STOP, STOP SEKARANG JUGA!

Berusahalah menjadi lebih dan lebih baik tanpa harus mengumumkannya kepada khalayak ramai!

Jangan kaukatakan apa yang tak kaulakukan!

Kuharap aku, kau, kalian, mereka, dan kita semua mengerti dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.


Salam,

IRWAN SYAHPUTRA
Share:

Jumat, 02 Januari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 2 Januari 2015 (Trend 2015)

Kang Maman Tren 2015

Pertama-tama, kami mengucapkan terima kasih kepada Radio Swaragama Jogjakarta, yang hasil surveinya menempatkan tayangan komedi Indonesia Lawak Klub menjadi tontonan favorit 2014.

Silakan saja ikut tren jika ingin trendi, itu hak setiap orang. Tapi tadi, Sonny Muchlison mengatakan secara tersirat, jangan karena di Amerika lagi tren tertentu, lalu biar dibilang gaya, ngikuti tren Amerika. Lagi tren di Perancis, lalu ikut-ikutan gaya seperti orang Perancis. Karena, tegas Sonny tadi, “Yang benar itu: Find your identity!” Temukan, tonjolkan karakter individumu, jangan latah, jangan mau jadi kembaran orang meskipun mereka seleb, dan jangan asal ikut-ikutan tren. Karena, ingat: Sesungguhnya, hanya ikan mati yang ikut arus; yang ikut ke mana air mengalir, dan itu berarti ia akan mengalir menuju ke tempat yang makin rendah.

Namun juga teringat istilah Jawa, “Keli yo keli ning ojo ngeli”; Tak semua orang bisa membendung arus karena arus kerap sulit dibendung. Sehingga sesekali, arus harus diikuti. Tetapi sekali lagi, tetap menjadi diri sendiri.

Kesimpulannya, ikuti tren karena mampu agar trendi silakan saja, asal jangan ikut-ikutan. Karena kalau sekadar ikut-ikutan, bukannya malah terlihat keren, malah (maaf) terlihat jadi berselera kere. Bukannya jadi diri sendiri karena ikut mode, malah jadi korban mode. Merasa telah menjadi sumber inspirasi, tapi karena salah proporsi dan komposisi, ternyata cuma jadi makhluk ilusi. Merasa telah menjadi mismatching, malahan jadi missing link. Jadi, kata kuncinya: JADILAH DIRI SENDIRI! (Maman Suherman)

***

Kang Maman yang sekarang juga dikenal sebagai NoTulen Indonesia Lawak Klub memulai kariernya sebagai jurnalis dan penulis pada 1986. Dan sejak 1988, Kang Maman tergabung di Kelompok Kompas Gramedia, dan bermula di tabloid Nova yang saat itu baru lahir.

Maman Suherman (Kang Maman) menjadi jurnalis, sekaligus selesaikan berbagai pendidikan dan pelatihan di UI, IPPM, Prasetya Mulya, dll. Sebelum di KKG, Kang Maman juga telah menjadi jurnalis di media milik keluarga Agnes Monica: Mahkota, Rias, Ria Film, Mitra, juga berkarier sebagai penulis naskah/script writer di Radio Prambors, Radio Humor Suara Kejayaan, Delta, dan Female. Juga menjadi penyiar radio, di antaranya, Safari FM dan Woman Radio bersama Ida Arimurti dan Mas Pepeng.

Di Kelompok Kompas Gramedia, Kang Maman memulai sebagai reporter, redaktur, editor hingga redpel dan pemimpin redaksi pada 1993. Kang Maman juga menelurkan ide yang kemudian dikenal dengan nama Panasonic Gobel Awards sejak 1998 hingga kini.

Setelah berkarier di Kelompok Kompas Gramedia, Kang Maman berkarier di rumah produksi/biro iklan Avicom sebagai Managing Director.

Sepanjang 2003-2011, Kang Maman menelurkan lebih dari 50 judul acara TV dan juga iklan bersama Avicom. Membuat sinetron, juga dilakoni Maman Suherman, tetapi rata-rata berbasis novel. Karmila, Jangan Ambil Nyawaku, Badai Pasti Berlalu.

Dream band yang di antaranya melahirkan grup Kotak, juga adalah karya audiovisual dari tangan dingin Kang Maman.

Sejak 2012, Maman Suherman memutuskan berkarier sendiri, dan lahirlah tayangan Mata Hati di Kompas TV selama 2 tahun. Kabarnya, Mata Hati sedang disiapkan kembali oleh Kang Maman dan teman-teman di Kompas TV untuk hadir kembali. Sejak 2012 itu pula, Kang Maman tergabung sebagai penulis di Penerbit KPG dan terbilang penulis yang makin produktif.

Sebelum dengan Penerbit KPG, sudah banyak buku ditulisnya, di antaranya bersama pengobat berbahan herbal, Prof. Hembing Wijayakusuma. Juga jadi editor buku yang diterbitkan Kompas: Menuju Partai Orang Biasa bersama Wimar yang diakui Maman Suherman sebagai mentornya.

Tahun pertama di Penerbit KPG, Kang Maman hanya menulis satu buku: Matahati (2012). Tahun kedua, 2 buku: Bokis dan Bokis 2 yang menguak kebohongan-kebohongan dan pelintiran berita di dunia jurnalistik. Bokis dan Bokis 2 Maman Suherman cetak ulang dalam waktu singkat, dan menjadi pegangan banyak mahasiswa jurnalistik/komunikasi.

Banyak kisah di belakang layar tentang selebriti dan jurnalistik yang menghebohkan dikuak Maman Suherman di Bokis dan Bokis 2. Jika ingin mendapatkan Bokis dan Bokis 2 Maman Suherman, lebih mudah pesan online ke @GrazeraCom atau @pengenbuku.

Tahun 2014, di tahun ketiganya dengan Penerbit KPG, Kang Maman makin produktif dengan menulis 3 buku dalam setahun. April 2014, lahirlah novel perdananya: Re: yang diangkat Maman Suherman dari kisah nyata kepahitan hidup perempuan.

Sebagai mahasiswa Kriminologi-UI, 2 tahun Kang Maman melakukan penelusuran investigatif di delapan kota tentang nasib para pelacur. Hingga akhirnya Kang Maman bertemu sosok Re:, ibu satu anak yang terjebak dalam dunia pelacuran lesbian. Itulah yang dituangkan Maman Suherman dalam novel Re:, keperihannya menyaksikan 13 perempuan yang terbunuh dengan sangat sadis.

Re: adalah novel yang cepat cetak ulang, ditulis Maman Suherman dengan bahasa yang ringan namun teramat mencekam. Rasanya, tidak ada yang tidak mengucurkan ait mata saat memaca novel Re: dari Kang Maman yang diterbitkan Penerbit KPG. Sekuel novel Re: saat ini sedang dilanjutkan ditulis Kang Maman dan tetap akan diterbitkan oleh Penerbit KPG.

Pada 2/11/2014, Maman Suherman luncurkan 2 buku sekaligus yang terinspirasi dari posisinya sebagai konsultan kreatif dan notulen Indonesia Lawak Klub. 125 Ayat Cinta Kang Maman dituangkannya dalam buku Virus Akal Bulus. Dan NoTulen Cakeppp! Kang Maman yang hanya butuh waktu seminggu 2/11 - 9/11 untuk dicetak ulang oleh Penerbit KPG.

Di tengah kesibukan ngajar, pembicara, konsultan kreatif, dan notulen Indonesia Lawak Klub, Maman Suherman menulis dan untuk diterbitkan Penerbit KPG. “Lagi nulis 3 buku simultan, tapi sabar ya. Insya Allah 2015,” kata Kang Maman. Dan tetap di bawah payung Penerbit KPG.

Itulah selintas tentang Kang Maman, penulis produktif yang bernaung di bawah payung Penerbit KPG. Selamat pagi.



* Diambil dari kultwit @b_ok_is pada
Share:

Kamis, 01 Januari 2015

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 1 Januari 2015 (Kuliner)

Kang Maman Kuliner

Ke mana pun kaki melangkah, ke sudut dunia mana pun kita terbang dan berlayar, bisa dipastikan—seperti kata Pak Jarwo Kwat—kita akan selalu rindu dan berharap segera kembali ke negeri tempat lahir beta, tempat dibuai dibesarkan bunda, tempat di mana nyiur di pantai seperti tak henti melambai memanggil kita kembali ke negeri yang elok: Indonesia.

Mengapa? Karena Indonesia adalah sepotong surga yang “dijatuhkan” Tuhan ke bumi. Negeri yang bukti kebinekaannya tidak cuma suku dan bahasanya, tapi juga masakan daerah-daerahnya. Dunia mengakui, tidak ada negara yang memiliki ragam kuliner sekaya kita. Keragaman ini memiliki sejarah yang panjang terkait budaya, politik, agama, perdagangan, hingga penaklukan di masa silam.

Indonesia sejak lama adalah negara rempah. Dengan beragam bumbu dan rempah yang melimpah-ruah, kita selalu didatangi oleh bangsa-bangsa asing sejak abad ke-14 untuk dibeli rempah-rempahnya. Coba sedikit bertanya ke dalam hati: Cita rasa apa yang tidak ada di bumi Indonesia?

Makanan di Jawa, tercirikan rasa manis. Di Solo, kuat pengaruh Belanda. Sementara kuliner di Kalimantan, justru tak terpengaruh budaya luar sama sekali. Minahasa, kuat dengan pedasnya. Dan di Indonesia bagian timur, orang memakai bumbu tak terlalu banyak; padahal sejak dulu, Maluku dikenal teramat kaya rempah. Negeri yang kata Dinasti Ming, Cina, adalah negeri di mana ada gunung dupa, tetapi dirahasiakan untuk dibeli selalu oleh masyarakat Cina.

Sementara di Sumatra, rempahnya sedikit; di Aceh, orang hanya menanam satu saja: lada, tetapi seperti kata Bianca tadi, “Ada satu masakan, isinya 27 jenis rempah yang disatukan ke dalam kuali.”

Kita sekarang di atas lautan. Kuliner berbahan ikan jangan ditanya kayanya. Negeri kita teramat empuk pencurian ikan. Menurut FAO [Food and Agriculture Organization], setiap tahun, 50 triliun kekayaan laut kita dicuri. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, bahkan lebih dari itu: 3.000 triliun per tahun dicuri—lebih dari APBN 2015 yang “hanya” Rp2.039 triliun.

Jadi, mari mensyukuri dan menikmati keberagaman negeri ini, pelangi indah karena berwarna-warni.

Terakhir: Jika ada hal yang tak ingin dilihat, tinggal menutup kedua mata. Jika ada hal yang tak ingin didengar, cukup menutup kedua telinga. Tetapi jika sudah menyangkut rasa dan urusan lapar, perut dan lidah tak kuasa menutup diri, berbohong, atau berbantah. Aroma rempah yang melimpah dari beragam kuliner nusantara, akan selalu memanggilmu untuk kembali ke tanah tumpah darah tercinta, ibu pertiwi, yang cuma menyediakan dua jenis masakan: ‘LEZAT dan LEZAT SEKALI’ atau ‘ENAK dan ENAK SEKALI’.

Itulah seni kuliner Indonesia! (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter