Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Rabu, 06 November 2013

PERSIKAB JAYA



































Share:

Jumat, 27 September 2013

Sejarah Singkat Berdirinya MAN Singkil

Para pelaku sejarah adalah orang-orang yang pantas mendapat penghargaan, yaitu paling sedikit berupa doa dan sanjungan (baik dalam bentuk tulisan maupun ucapan). Meskipun para pelaku sejarah itu sendiri tidak memintanya, namun sudah selayaknya penghargaan itu kita persembahkan untuk mereka karena mereka telah beramal secara ikhlas demi kemaslahatan umat.

Sebagai umat yang beragama pula, sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada mereka yang telah berjasa dalam merintis dan mengembangkan Madrasah Aliyah Negeri Singkil sejak awal hingga sampai saat ini. Sabda Rasul, “Tidak dianggap kamu bersyukur kepada Allah bila tidak berterima kasih kepada manusia.” Jadi, penulisan sejarah ini adalah dalam rangka terima kasih kami kepada para pionir yang telah berjasa kepada Madrasah Aliyah Negeri Singkil ini.

Ide berdirinya Madrasah Aliyah Negeri Singkil adalah gagasan dari para tokoh-tokoh masyarakat yang berdomisili di Singkil, khususnya desa Pasar Singkil, antara lain yaitu: Ust. Abu Sulaiman, Alm. Ust. Abdurrahman, Alm. Ahmad Rasnisyah, Ust. Ramlan, Ahmad Fauzi, serta tokoh-tokoh lain yang sangat peduli dengan pendidikan yang bernuansa islami.

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Singkil pertama sekali berdiri di Singkil dengan nama MAS (Madrasah Aliyah Swasta) pada tahun 1987, dan berlokasi di gedung kompleks masjid Muhammadiyah Taqwa di desa Pasar Singkil. Setelah adanya swadaya dari masyarakat, maka dibangunlah gedung MAN Singkil pada tahun 1992 dengan 3 bangunan yang sangat sederhana sekali di atas tanah wakaf seluas 8.500 m2 di Jalan Utama No. 21 Pasar Singkil, Aceh Singkil.

Pada periode awal berdirinya MAN Singkil, tenaga-tenaga pendidik di bidang studi agama maupun umum kebanyakan diperbantukan dari Kantor Urusan Agama (KUA), Pengadilan Agama dan guru-guru SMA. Madrasah Aliyah Negeri Singkil diresmikan penegeriaannya pada tanggal 22 Maret 1999 dengan SK Menteri Agama Nomor 71 Tahun 1999 tanggal 22 Maret 1999.

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Singkil adalah sebuah sekolah berciri khas Islam yang tercipta pertama sekali di desa Pasar Singkil, kab. Aceh Singkil. Terhitung hingga saat ini, MAN Singkil telah dipimpin oleh 6 Kepala Madrasah, yakni: Drs. Ramlan (1987–2000), Ida Warni AR, B.A. (2000–2004), Alm. Drs. Suhaili (2004–2008), Ahmad Fauzi, S.Ag. (2008–2010), Husnati, S.Ag. (2010–2011), Halimsyah, M.A. (2011–sekarang). Pada saat ini tenaga pendidik yang tetap berjumlah 13 orang, tenaga tidak tetap 13 orang, sedangkan tenaga kependididkan berjumlah 2 orang.

Dengan dibantu oleh Pemda (Pemerintah Daerah) dan BRR Aceh, kondisi bangunan MAN Singkil kini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Madrasah Aliyah Negeri Singkil adalah lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Sampai saat ini MAN Singkil telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana sebagai daya dukung pengembangan keilmuan yang dibutuhkan. Selain itu, MAN Singkil juga memiliki tenaga pengajar yang cukup handal, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Telah tersedia sejumlah fasilitas pendukung seperti laboratorium, perpustakaan, musala, serta fasilitas seni dan olahraga. Keinginan yang kuat dari lembaga ini adalah menampilkan sosok madrasah yang bukan hanya sekadar tempat informasi ilmu yang berlangsung formal dan mekanis sifatnya, lebih dari itu, MAN Singkil juga ingin menjadikan dirinya benar-benar sebagai rumah ilmu, yakni rumah ilmu bagi para penghuninya yang mempunyai ciri khas mengedepankan keberanian yang bertanggung jawab, kebebasan yang didasari kekuatan nalar yang kukuh serta keterbukaan dalam menerima segala informasi keilmuan yang diperlukan.

Yang diinginkan lembaga pendidikan sebagai rumah ilmu adalah: terwujudnya sumber daya manusia masa depan yang memiliki kedalaman spiritual, kekukuhan intelektual, moral yang tinggi, keterampilan handal yang semuanya termanifestasikan dalam bentuk kesalehan teologis, juga kesalehan sosial serta memiliki visi yang jelas dan wawasan yang luas.


Sumber: Tata Usaha MAN Singkil
Share:

Sabtu, 27 Juli 2013

Dayah Darul Mahabbah










Share:

Rabu, 26 Juni 2013

Bukan Akhir dari Segalanya

Penulis: Irwan Syahputra, 25 Mei 2013

Penantian panjang itu kini telah usai sudah. Akhirnya, kertas karton putih berisi pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) 2013 tingkat SMA/MA (untuk MAN Singkil & SMAN1 Singkil) terpampang jua di dinding depan kantor Polsek Singkil, sore kemarin. Dan alhamdulillah, seperti yang kita ketahui bersama, hampir semua siswa dari kedua sekolah tersebut dinyatakan LULUS setelah mengikuti Ujian Nasional beberapa waktu lalu.

Rasa gerah, gugup, cemas, resah, gelisah, serta takut berkecamuk dalam benak para siswa sebelum melihat hasil dari kerja keras mereka selama 3 tahun lalu saat masih menimba ilmu di bangku sekolahan.

Satu hal yang membuat para siswa/i sedikit tersenyum dan lega adalah, terjawabnya semua teka-teki tentang lulus atau tidaknya mereka yang selama ini banyak menghantui mereka melalui jejaring sosial atau alat komunikasi lainnya. Rasa haru, bangga, tawa, dan gembira dirasakan oleh mereka yang telah dinyatakan lulus. Sedangkan rasa kecewa dan duka kini tengah menyelimuti benak dan hati para siswa yang pada tahun ini belum mampu untuk meraih kata ‘lulus’ itu sendiri.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang yang menurut saya patut dibanggakan oleh semua para siswa tahun ini, yaitu dengan segala “pergolakan” yang terjadi selama pelaksanaan Ujian Nasional beberapa waktu lalu, mereka masih mampu berdiri, bertahan, dan meraih kata ‘lulus’ walau tanpa
“tradisi” yang biasa diperoleh oleh kakak-kakak mereka pada tahun-tahun yang lalu.

***

Hal apa yang bisa kita petik dari cerita singkat di atas?

Tanpa “P3K” (dalam medis: Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), mereka masih mampu memperoleh kelulusan walau dengan segala keterbatasan.

Satu hal yang pasti sahabat-sahabatku sekalian, dengan kejujuran, keyakinan, kerja keras, serta doa yang selalu dipanjatkan oleh mereka kepada sang Ilahi, mampu menjawab segala persepsi dan opini yang “menghujat” mereka selama ini.

Akhir sekali, saya Irwan Syahputra Lubis mengucapkan: Selamat membuka lembaran baru untuk sahabat-sahabatku yang telah “lepas landas” dari MAN Singkil & SMAN 1 Singkil. Dan untuk sahabat-sahabatku yang saat ini tengah berhadapan dengan jurang pemisah antara harapan dan kenyataan, mengutip kalimat Bambang Pamungkas: Kita boleh saja kecewa dengan apa yang telah terjadi, tetapi jangan pernah kehilangan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Selesai...
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter