Temukan saya: @irwanzah_27 di Twitter & @isl27 di Instagram

SAPO

Lembaga Pembinaan Yatim dan Dhuafa

Kau Tak Sendiri

@_BondanPrakoso_

Minggu, 12 Februari 2017

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 12 Februari 2017 (Traveling bikin Otak Bening)

Kang Maman – Traveling bikin Otak Bening

Persis seperti yang diucapkan para traveler tadi, teringat pada Junko Tabei, perempuan pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak Everest, 8.848 meter di usia 36, yang juga sekaligus perempuan pertama di dunia yang menaklukkan puncak-puncak tertinggi di setiap benua yang kita sebut “Seven Summits”.

“Begitu memutuskan berjalan, saya tidak akan pernah lagi ingin berhenti mendaki—dan tidak pernah akan berhenti—bahkan ketika saya telah melihat orang-orang tewas dalam kecelakaan di gunung.” “Tentu saja,” lanjutnya, “setiap kali hal itu terjadi sangat mengejutkan, tetapi hal tersebut tidak akan pernah menghentikan langkah saya untuk mendaki.”

Hidup adalah perjalanan menuju pulang. Dan kita baru akan berhenti jika betul-betul telah berpulang—seperti Junko Tabei, baru betul-betul berhenti berjalan pada 20 Oktober 2016 di usia 77 karena kanker peritoneum. Jadi, yang bisa menyetop perjalanan seseorang adalah dirinya sendiri saat sudah menemukan tanda titik.

Dan, untuk Mas Jarwo:
Perhatikan senyum si kecil: Bahagia bukan di rumah, tetapi di hati—dalam pelukan ayah dan ibunya. [segmen 2]

***

Traveling bikin otak bening. Kata kunci dari tujuan perjalanan tadi terdengar adalah: menemukan kebahagiaan dan makin dekat dengan-Nya.

Dan pelajaran terpenting yang bisa dipetik dari para pendaki, pejalan, dan pengelana—entah yang nomaden maupun yang sosialita—tergambar dari ucapan seorang penulis sekaligus pejalan, dalam bukunya “Titik Nol” – Agustinus Wibowo:
“Semangat yang meredup lebih membunuh daripada fisik yang remuk redam.” [segmen 3]

***

Semua pendaki sejati pasti tahu tiga kode etik pendakian: [1] Jangan mengambil apa pun kecuali gambar, [2] jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak kaki, dan [3] kill nothing but time (jangan membunuh apa pun kecuali waktu).

Kalau sudah sampai membunuh, bahkan membunuh sesama, ia tak cuma bukan petualang sejati, tapi juga manusia yang tak punya hati.

Jadi, duka dan doa kami untuk seluruh keluarga dan korban.

Dan, terakhir:
Liburan yang terindah itu, lihat kata ‘libur’, hilangkan huruf ‘l’, hilangkan huruf ‘r’. Libur terindah adalah kembali ke pangkuan ibu, ke dalam pelukan ibu. Dan kalau kamu selalu mengingat ibu, kamu tak akan pernah membunuh anak ibu. (Maman Suherman)
Share:

Sabtu, 11 Februari 2017

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 11 Februari 2017 (Prediksi tanpa Isi)

Kang Maman – Prediksi tanpa Isi

Dengan bermodalkan tiga paslon yang memiliki nama-nama bermakna baik, kata Ronal, semoga siapa pun pemenangnya, bisa membawa tiga hal yang merupakan gabungan dari nama ketiga pasangan yang berlomba dalam ajang demokrasi di ibu kota tercinta ini.

Jadi, siapa pun yang terpilih, semoga menjadikan Jakarta sebagai kota di mana sejuta asa (Anies-Sandi) bisa diwujudkan, menjadi kota yang semakin kuat laksana baja (Basuki-Djarot) dalam menghadapi segala tempaan, dan menjadi kota yang punya sejuta manfaat laiknya asi (Agus-Sylvi) bagi warganya dan juga bagi negeri tercinta. Dituntut kebesaran hati untuk menerima hasil dari proses demokrasi bernama pilkada itu.

Dan kebesaran hati, salah satu wujudnya adalah dengan tidak menyebar fitnah. Barang siapa menyalakan api fitnah, maka dia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya.

Dan terhadap tukang fitnah, memaafkan adalah kemenangan terbaik. Dan kalaupun mau balas dendam terhadap tukang fitnah, pemimpin yang baik melakukan balas dendam terbaik adalah dengan memperbaiki dirinya sendiri. [segmen 2]

***

Tadi Mas Andika bilang, pemimpin bukan diukur dari umur dan juga garis keturunan.

Di atas segala prediksi Suhu Yo dan Ki Prana, yang paling utama adalah: semoga yang terpilih adalah pemimpin yang punya isi, bukan soal umur.

Dan di atas segala ramalan, yang jauh lebih penting adalah penggal dari kata ‘ramalan’ itu. Siapa pun yang terpilih, jangan lupa beramal. Dan wujud amal seorang pemimpin terpilih adalah: jika berkata tidak bohong, jika berjanji tidak ingkar, dan jika diberi amanat tidak khianat. [segmen 4]

***

Siapa pun yang terpilih memimpin Nanggroe Aceh Darussalam, Bangka Belitung, Gorontalo, Sulawesi Barat, Papua Barat, Banten, atau DKI, dari segmen 1 sampai segmen 5 kita bisa dapat poin untuk selalu mengingat tujuh nasihat Rumi:

1. Dalam hal kedermawanan, pemimpin harus seperti sungai: mengalir tak henti dan tak pernah mengharap kembali.

[2.] Dalam soal kasih sayang dan berkah, jadilah seperti matahari: memimpin, memberi kehangatan kepada siapa saja tanpa membedakan lawan atau kawan—kata Kang Denny tadi.

[3.] Dalam menutupi aib orang, jadilah seperti malam: menutupi rapat-rapat tanpa pernah membocorkan.

[4.] Dalam keadaan marah dan murka, jadilah seperti orang mati: diam dan jangan lakukan apa pun agar tak menyesal di kemudian hari.

[5.] Dalam soal kesederhanaan dan kerendah-hatian, jadilah seperti bumi: selalu menempatkan diri di bawah dan meninggikan yang lain.

[6.] Dalam soal toleransi, jadilah seperti laut: berlapang dada selapang-lapangnya, siap menampung pandangan yang berbeda.

Dan terakhir, kata Rumi [7.] Tampillah seperti diri sejatimu: hiduplah sepenuh integritas, sama lahir dengan batin.

Karena pemimpin
tak boleh bertopeng. (Maman Suherman)
Share:

Minggu, 05 Februari 2017

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 5 Februari 2017 (Muda vs Tua)

Kang Maman – Muda vs Tua

Nostalgia mengandung melankoli, tapi juga mengandung penghiburan. “Parfum masa silam”, membuat para perindu sering berbahagia sehingga tak jarang lahir pernyataan, “Masa muda kami lebih berwarna dari kalian; masa muda kami lebih santun dan beretika daripada kalian.” Padahal, setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Tak bisa dibanding-bandingkan, tak bisa dibeda-bedakan, cuma bisa disandingkan sebagai bagian dari rangkaian perjalanan sejarah.

[HIStory + MY story = our story] [segmen 2]

***

Saat menanyakan PSPB tadi, Kang Denny menyinggung tentang sejarah. Tahukah teman-teman bahwa Jenderal Soedirman [EYD: Sudirman] gugur demi bangsa di usia yang masih sangat muda, 34 tahun lebih lima hari?

Thomas Matulessy (Patimura), juga gugur di 34 tahun. Bahkan, Christina Martha Tiahahu, gugur demi tanah ini di usia masih 18 tahun kurang dua hari.

Jadi, tua atau muda itu bukan semata persoalan usia. Tapi apakah kamu merasa bisa, atau kamu bisa merasa. Kamu mengisi hidupmu dengan mengabdi, atau cuma bisa caci maki. [segmen 4]

***

Betul kata Anyun, minat baca Indonesia cuma 0,001. Jadi kalau ada seribu orang berkumpul, cuma satu yang punya minat baca. Kalau penduduk 250 juta, cuma 250 ribu yang suka baca. Bandingkan dengan penyalah narkoba. Penyalahguna narkoba kita yang jumlahnya 5,9 juta. Jadi, mari membaca untuk juga menyimpulkan hari ini.

Catatan seorang demonstran, dalam buku “Catatan Seorang Demonstran” – Soe Hok Gie pernah bilang, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua”—apalagi jika diisi dengan sia-sia.

Tentang usia muda, teringat bacaan satu lagi, “Mahabharata” :
“Kerjakanlah sesuatu pada siang hari, yang akan memungkinkanmu melalui malam dengan kebahagiaan. Kerjakanlah sesuatu pada masa mudamu, yang akan memberikan kebahagiaan hidup di masa tua nanti. Dan kerjakanlah sesuatu di sepanjang hidupmu, yang akan memberikan kebahagiaan hidup sekarang dan selamanya.”

Saya meluruskan kata Mas Jarwo:
Menjadi tua itu takdir, menjadi dewasa itu pilihan. (Maman Suherman)
Share:

Sabtu, 04 Februari 2017

NoTulen ILK (Indonesia Lawak Klub) 4 Februari 2017 (Kompetisi Jadi Gubernur)

Kang Maman – Kompetisi Jadi Gubernur

Semua juga tahu, demokrasi itu popularity contest. Tetapi dalam debat, tadi diingatkan oleh Ronal, sungguh keblinger kalau mengira rakyat tak pinter dan masih mudah dikelabui. Dan kalaupun ada yang tak pinter, dia toh kelak akan jadi rakyatmu juga yang harus kaubuat pintar. Jadi, jangan biasakan sedari awal sudah membikin mereka tersesat.

Dan, yakini:
Sebodoh apa pun rakyat, rakyat cukup melek untuk bisa membedakan mana data, mana fakta, mana yang cuma permainan kata, diksi atau fiksi.

Karenanya, mereka juga akan tahu:
Pemimpin baik itu yang tidak cuma bermain kata, tapi diyakini mampu berkarya nyata. [segmen 2]

***

Kepada calon pemimpin, panelis kita mengingatkan betul:
Rakyat tak butuh bentakan mulutmu. Rakyat butuh entakan karya nyatamu yang bermutu.

Betul, jika ingin melihat indahnya fajar, mesti melalui gelapnya malam. Tapi Jalaluddin Rumi mengingatkan, “Karena cinta, amarah berubah menjadi keramahan.”

Dan, tanpa cinta, anger bisa berubah menjadi danger! [segmen 3]

***

Sekadar info, “Si Doel Anak Betawi” ditulis Aman Datuk Madjoindo tahun 1956.

Pemimpin, buka matamu, buka kacamatamu! Meski ada yang bilang, ilmuwan bisa salah tapi tak boleh bohong, sedang politisi tak boleh salah tapi boleh bohong, tetapi pemimpin sejati tahu: ia tak boleh membohongi rakyat, dan tak boleh salah menjalankan amanah.

Terakhir, teringat kata Gus Mus:
“Jangan banyak mencari banyak, carilah berkah. Banyak bisa didapat cukup dengan meminta. Tapi memberi akan mendatangkan berkah.”

Pemimpin yang baik tidak semata berorientasi nafkah, tapi mencari berkah.

Ingat kata Rano, ingat juga dialog Bang Ben di luar skenario di “Si Doel” :
STOP MONEY POLITIC, PERCAYALAH PADA KEKUATAN DOA ORANG-ORANG BAIK.” (Maman Suherman)
Share:

99 Mutiara Hijabers

99 Mutiara Hijabers
Klik gambar untuk membeli

Bandung Konveksi Kaos

Bandung Konveksi Kaos
konveksi kaos murah
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Twitter