Kang
Maman – Traveling bikin Otak Bening
Persis
seperti yang diucapkan para traveler tadi, teringat pada Junko Tabei,
perempuan pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak Everest, 8.848 meter
di usia 36, yang juga sekaligus perempuan pertama di dunia yang menaklukkan
puncak-puncak tertinggi di setiap benua yang kita sebut “Seven Summits”.
“Begitu
memutuskan berjalan, saya tidak akan pernah lagi ingin berhenti mendaki—dan
tidak pernah akan berhenti—bahkan ketika saya telah melihat orang-orang tewas
dalam kecelakaan di gunung.” “Tentu saja,” lanjutnya, “setiap kali hal itu
terjadi sangat mengejutkan, tetapi hal tersebut tidak akan pernah menghentikan
langkah saya untuk mendaki.”
Hidup adalah
perjalanan menuju pulang. Dan kita baru akan berhenti jika betul-betul telah
berpulang—seperti Junko Tabei, baru betul-betul berhenti berjalan pada 20
Oktober 2016 di usia 77 karena kanker peritoneum. Jadi, yang bisa menyetop
perjalanan seseorang adalah dirinya sendiri saat sudah menemukan tanda titik.
Dan, untuk
Mas Jarwo:
Perhatikan senyum
si kecil: Bahagia bukan di rumah, tetapi di hati—dalam pelukan ayah dan
ibunya. [segmen 2]
***
Traveling
bikin otak bening. Kata kunci dari tujuan perjalanan tadi terdengar adalah:
menemukan kebahagiaan dan makin dekat dengan-Nya.
Dan
pelajaran terpenting yang bisa dipetik dari para pendaki, pejalan, dan
pengelana—entah yang nomaden maupun yang sosialita—tergambar dari
ucapan seorang penulis sekaligus pejalan, dalam bukunya “Titik Nol” – Agustinus
Wibowo:
“Semangat
yang meredup lebih membunuh daripada fisik yang remuk redam.” [segmen
3]
***
Semua
pendaki sejati pasti tahu tiga kode etik pendakian: [1] Jangan mengambil apa
pun kecuali gambar, [2] jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak kaki, dan [3] kill nothing but time (jangan membunuh apa pun kecuali waktu).
Kalau sudah
sampai membunuh, bahkan membunuh sesama, ia tak cuma bukan petualang sejati,
tapi juga manusia yang tak punya hati.
Jadi, duka
dan doa kami untuk seluruh keluarga dan korban.
Dan,
terakhir:
Liburan yang
terindah itu, lihat kata ‘libur’, hilangkan huruf ‘l’, hilangkan huruf ‘r’.
Libur terindah adalah kembali ke pangkuan ibu, ke dalam pelukan ibu. Dan kalau
kamu selalu mengingat ibu, kamu tak akan pernah membunuh anak ibu. (Maman
Suherman)




